Hari Ke Tiga Ratus Lima Puluh Delapan Ngampus

Bersama Pak Fikri MK Evaluasi Program PNF
“Kalo kita melihat Kasus Ijazah Jokowi dalam perspektif Pendidikan formal, kalo terbukti palsu, tentu itu adanya kekeliruan. Tetapi kalo kita melihatnya dalam perspektif Pendidikan Nonformal, meskipun Ijazahnya palsu, menurut keyakinan saya sendiri itu sebuah kebanggaan, itulah buah dari Pendidikan Nonformal yang dipelajarinya, kita harus akui itu.” Ucap Dosen, memberikan contoh berdasarkan kenyataan di lapangan.

“Yang terpenting dari Pendidikan adalah, bukan gelar atau Ijazah, tetapi dia punya keterampilan dan bisa menghidupi dirinya sendiri, itulah hakikat Pendidikan.” Lanjutnya

“Kalo misalnya Pendidikan outputnya untuk menghidupi dirinya, terus bagaimana dengan pandangan orang-orang yang mengatakan ngapain berpendidikan tinggi kalo ujung-ujungnya jadi Supir Angkot? Jadi Tukang Parkir? Atau bagi perempuan kembali ke dapur?” Tanya gue dengan semangat, mencoba cara terakhir, berharap rasa kantuk akan dikalahkan oleh senjata diskusi.

Harapan itu sirna, suara soft spoken kembali bergema. Memang berdaging, tapi merangsang untuk segera terlelap dalam kemunafikan.

Hari Ke Tiga Ratus Lima Puluh Delapan Ngampus, mata kuliah ada tiga yaitu Manajemen Pendidikan, Evaluasi hasil pembelajaran Pendidikan nonformal dan Pembelajaran Microteaching. Untuk mata kuliah pertama, cukup di luar nulur sih. Karena sebelumnya tidak ada yang menghubungi Dosen tersebut, simpang siur tuh informasi antara masuk atau tidak. Gue kepikiran, berangkat nggak yah? Kalo gue ke sana tapi dosennya nggak ada, apa yang harus gue lakukan? Tapi kalo nggak berangkat, dan dosennya ternyata ada, gimana tuh? Akhirnya gue putuskan untuk berangkat.

Waktu tidur malam yang tidak cukup, membuat mata gue mengantuk berkali-kali. Penumpang di Mobil tidak terlalu banyak, rata-rata perempuan jadi gue pikir aman dah untuk sedikit memejamkan mata. Tadinya gue mau berbasa-basi dengan salah satu penumpang yang ada di depan gue, katanya dia dari Kampus UIN, tujuan hanya satu sih, menyerang rasa kantuk. Tapi ide itu gue tepis jauh-jauh, biarlah dia tenang menatap setiap sisi jalan, tanpa ada gangguan. Dua menit kemudian, gue pun ketiduran.

“Palima! Palima! Palima!”

Sontak saja suara itu membangunkan gue yang sedang nikmatnya tidur. Gue melihat penumpang di sisi kanan bersiap-siap untuk turun, dilihat dari penampilannya sepertinya mahasiswi, bukan dari UIN. Kami pun turun di samping palima, karena tadi lampu merah mendadak menjadi hijau. Melihat tatapan supir yang tidak bersahabat, gue pun segera menyerahkan ongkos dan cepat-cepat pergi tanpa menengok ke belakang. Kalo gue terlambat satu detik, kemungkinan besar akan ada tawar menawar lagi dan gue nggak mau itu terjadi, buang-buang energi. Malas soalnya gue minum energen wkwk.

Gue melihat alroji, waktunya lima belas menit lagi, bakalan telat nih gue. Beruntungnya di seberang, mobil Angkot menunggu gue untuk naik. Dan dugaan gue pas di awal tadi benar, dia bukan mahasiswi UIN, tapi satu kampus dengan gue. Kami pun turun di Sempu, tanpa ada basa-basi langsung menyeberang. Meskipun dosen ada atau nggak, ada yang mendorong gue untuk datang tepat waktu, jadi gue berjalan tempo sedang. Tiba-tiba ada yang menyalip gue dari belakang, yeah dia yang satu mobil tadi.

“Cemas kali kau dek-dek.” Ucap gue dalam hati melihat dia berjalan dengan cepat, serius cepat banget anjir. Jadinya lari-larian kami menuju kelas yang sebentar lagi akan segera dimulai.

Lorong-lorong kampus, tidak begitu ramai. Gue pun menuju kelas sesuai jadwal, dan betapa terkejutnya gue ternyata Dosennya sudah ada bro di dalam. Perkuliahan belum dimulai, karena masih ada beberapa teman gue yang belum datang. Sambil menunggu, gue teringat satu orang. Mirza! Biasanya datang menyambut gue, lalu kami berbincang santai, tapi sekarang sepi tak terbilang. Semoga elo baik-baik aja kerjanya di sana, Co!

Pembelajaran pun di mulai, di pertemuan pertama seperti biasa kontrak mata kuliah sambil sedikit sambutan sekapur sirih dari Dosen terkait manajemen Pendidikan. Dibedahlah sedikit demi sedikit kenapa dalam sendi kehidupan harus adanya manajemen, sebenarnya manajemen itu apa sih? Ada yang menjawab aturan, pengorganisasian, berbagi dan lainnya.

Mata kuliah kedua, evaluasi hasil belajar PNF kembali dilaksanakan secara offline. Nah, ini yang gue sampaikan di atas, cukup berdaging sih pembehasannya tapi entah karena suaranya yang soft spoken atau gue nya yang kurang tidur, itu beneran ngantuk banget cuy. Pembahasan utama menyinggung soal evaluasi yang kadang tidak sampai selesai. Contohnya evaluasi setelah adanya pelaksanaan pelatihan, biasanya selesai di situ saja, tidak ada keberlanjutannya, apakah setelah dua tahun atau tiga tahun mengikuti pelatihannya ada perubahan dalam hidupnya, menjadi sejehtera atau biasa-biasa saja? Begitulah.

Menurut Dosen, gue berbeda pandangan dengannya terhadap pembahasan Pendidikan. Gue belum menemukan maksudnya di bagian yang mana, karena memang pembahasannya bercabang. Soal pertanyaan gue di atas, memang tujuan gue bertanya hanya untuk menghilangkan rasa kantuk, tetapi jawabannya menurut keyakinan gue belum terjawab banget, Dosen lebih banyak membahas ke arah Pendidikan nonformal sedangkan gue lebih dari itu, ke arah Pendidikan formal dan Pendidikan nonformal.

Karena begini, okelah sudah sepakat sebelumnya bahwa Pendidikan nonformal tidak begitu dianggap penting, tapi hakikatnya disegala sendi kehidupan tidak terlepas pada Pendidikan nonformal, termasuk prestasi Pak Jokowi yang harusnya memang sebuah kebanggan. Dia selesai dengan Pendidikan nonformalnya. Pertanyaan gue simple, mau sampai kapan kita berkecimpung dalam pandangan bahwa seharunya Pendidikan nonformal dihargai dan setara dengan Pendidikan formal? Karena faktanya, Pendidikan nonformal sudah berinovasi dengan pesat, meskipun pandangan orang-orang men-stempelnya itu Pendidikan formal.

Mata kuliah ketiga, pembelajaran microteaching dilaksanakan secara online. Tensinya lumayan naik sih, apalagi dengan tugas-tugasnya, harus banget kembali membaca ulang hasil perkuliahan yang bersangkutan sebelumnya. Selama perkuliahan, gue bersama Dohri merebahkan badan di Gedung CA. Tadinya kami mau ke perpustakaan kampus sindangsari, tapi waktunya mepet dengan jadwal perkuliahan.

Sebelum, pulang gue diajak untuk ikut kajian dulu di kampus sambil sekalian bukber. Nggak terlalu memaksa sih, cuman lumayan tertarik aja, apalagi sesi kajian kali ini bekerja sama antara DKM Masjid dengan Pihak Jurusan PNF. Setelah melalui pertimbangan, gue pun memutuskan untuk pulang saja dah, ada tanggung jawab yang harus gue penuhi.

Perjalan pulang ada hal yang tak terduga, yang seharusnya dari sempu gue turun di palima, tapi angkot terus melaju sampai membawa gue baros. Di situ gue mencoba melihat sekitar, ternyata ada perubahan jadwal mobil angkutan umum yang sering gue tumpangi, di jam lima hanya ada beberapa yang akan datang, gue harus menunggu cukup lama, jadi untuk mengantisipasinya gue harus berusaha beradaptasi dengan kondisi ini.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement