Membaca Karya Sastra Yang Dianggap Rendahan

Bersama Mirza, Alif dan Ibad
“Idealnya, ketika mahasiswa masuk ke Perpustakaan, skripsi-skripsi yang ada dibuat menjadi Novel atau minimal cerpen, agar kekayaan pengetahuan itu didapatkan dengan ringan.” Ucap Pak Goal A Goang, dua tahun lalu dalam seminar pemberdayaan perpustakaan di perpustakaan pusat untirta.

Dewasa ini paradigma masyarakat, terkhusus yang merasa (baca: aktivis) menganggap bahwa membaca karya sastra Novel adalah selera yang rendah. Dibandingkan dengan membaca buku-buku ilmiah yang tebal, bahasanya monoton, dianggap memiliki selera yang tinggi. Padahal kebanyakan hanya dijadikan sebagai kutipan-kutipan di tugas akademik.

Sudah saatnya kita bertransformasi dari paradigma yang sudah tidak klasik ini. Karena faktanya, Buya Hamka, Pramoedya Ananta Teoer, Ibu Kartini, Leila S Hudori, Habiburahman El Shirazy membuat perubahan yang bertahap melalui karya sastranya masing-masing.

Bro, pernah nggak sih elo lagi asyik membaca buku sastra, tiba-tiba ada yang berkomentar bahwa “Ngapain banyak-banyak membaca buku fiksi, ngehayal mulu” atau “Lebih baik baca buku non fiksi biar logika elo jalan, rendah banget seleranya” yeah atau yang lebih nyelekit lainnya. Bahkan ada di suatu organisasi yang di mana salah seorang pengurus membuat karya sastra novel, alih-alih dipuji, ini malah dicaci maki dianggap karya rendahan. Kocak…

Bagi orang-orang yang memiliki mental kuat, disemprot seperti itu mungkin akan meruntuhkan kepercayaan dirinya membaca buku di depan umum, sebaliknya bagi orang-orang yang sudah terbiasa mengalaminya, apaan sih, sampah! Tinggal ditepis jauh-jauh. Lingkungan kita terlalu munafik menormalisasikan bahwa membaca buku fiksi itu rendahan, bakal kebanyakan mengkhayal, padahal kembali kepada dirinya masing-masing.
Observasi ke Rumah Dunia, semester 1
Gue setuju banget dengan statmen yang menganggap bahwa terlalu banyak membaca buku fiksi yang berlebihan itu nggak baik, dan gue setuju juga bahwa terlalu berlebihan membaca buku non fiksi tidak baik. Seimbang-seimbang aja gitu. Kalo ditanya posisi gue ada di mana, ya ada di kontra bro.

Begini yah, gue berpandangan bahwa karya fiksi sastra merupakan Bahasa yang ringan dibaca oleh semua kalangan, karena kaya dengan macam-macamnya. Sehingga proses transformasi nilai-nilai yang dibawa oleh penulis ke pembaca gampang saklek dipahami. Sedangkan karya non fiksi itu terlalu monoton, bahasanya nggak ringan banget, bahkan lihatnya saja langsung malas. Hanya orang-orang tertentu yang menyukainya dan memahami setiap nilai-nilai yang terkandung.

Oh yah, ada juga yang beranggapan bahwa karya fiksi itu terlalu berlebih-lebihan, tidak dapat dibuktikan. Untuk menjawabnya gue baru kepikiran ketika salah satu Dosen menceritakan kegembiraannya berlibur ke Jepang.

“Ketika saya masuk ke hotel, itu semuanya dikelola sama mesin semua. Saya speechless di situ, merasa takjub, nih sampai saya video proses bekerjanya.” Dengan muka riang gembira.

Mendengarnya ketakjubannya, tentu dong kita ikutan-ikutan, oh yah, kok bisa gitu, waah keren banget. Padahal nih yah, kalo kita sudah membaca novel-novel series Tere Liye yang Bulan, Bumi, Matahari dan sejenisnya itu nggak aneh. Karena dalam novel-novel tersebut sudah digambarkan bagaimana kondisi social masyarakat, akbiat kemajuan ekonomi. Bahkan saking majunya yah, kita cukup punya satu baju, kalo mau ganti jadi baju bola misalnya, tinggal perintahkan saja untuk mengubahnya, maka secara otomatis berubah bro.

Novel bukan hanya mengajak kita berpikir, tetapi memainkan psikologis dan emosional kita. ini yang membuatnya berbeda. Pembaca seolah-olah ditarik ke dalam kehidupan si tokoh utama secara langsung, bukan malah dicecoki oleh kebanggaan bahwa saya punya selera tinggi membaca, lalu nggak beres.

Apa yang disampaikan oleh Gol A Agoang, gue sepakat bahwa dalam perpustakaan skripsi-skripsi harus dijadikan sebagai bahan untuk membuat karya-karya sastra yang ringan dibaca oleh semua kalangan. Tidak elastis-elastis amat. Seperti halnya Minke yang pada akhirnya mampu berdamai meringankan Bahasa artikel-artikel beritanya dari yang tinggi, ke ringan. Sehingga dapat dukungan dari Masyarakat Pribumi atas kasus yang sedang dijalaninya.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement