Fotbar kelas B
“Kelas kita itu istimewa karena ada Mutiara, Lintang dan Presiden AS.” Ucap gue kepada Yasya dan Mirza pada waktu itu, ketika kami memaknai kelas B di sela-sela senggang.
“Oh yah, kenapa elo bisa berpikiran begitu?” tanya mereka berdua, yang memicu perdebatan baru.
Pada akhirnya waktu terus berjalan, membawa ke arah kiri-kanan yang penuh hal-hal baru. Apa yang kita temukan semuanya akan mati, tertelan atau tergantikan dengan yang baru. Tetapi dapat dipastikan, yang lama itu akan terus terkenang dalam ingatan bukan karena ingatan itu sudah terpatri, melainkan ada nilai yang masih relevan dibawa, seperti halnya Klub MU, Gorong-gorong, atau Mumi Firauan, akibat ditulis oke sang pecinta keabadian.
Sepertinya baru kemarin gue menulis catatan perihal memaknai kelas B PNF 2023, sepertinya baru kemarin gue paling frontal mengkritisi hal-hal remeh layaknya Aristoteles, akibat dari membaca novel dunia shopie. Sepertinya baru kemarin gue banyak debat, mencari topik baru, bertingkah tolol sambil menertawakan pola pikir manusia rata-rata yang melakukan sesuatu tanpa mempertanyakan untuk apa melakukan sesuatu itu.
Dan sepertinya bukankah itu baru kemarin, dan kemarin, dan kemarin, dan, sampai tak bisa ber dan dan lagi saking banyaknya pertanyaan dan bukankah, dan bukankah, dan dan perempuan-perempuan memaknai dan dan itu usaha untuk mempercantik wajah atau penampilan dari dan dan sebelumnya. Atau dari dan orang lain, dan orang lain sehingga memaknai dan dirinya sendiri harus sama dengan yang lain dan harus lebih dari yang lain itu.
Dan, apa itu dan? Bukankah dia adalah sebagai kata penyambung. Atau oh yah begini saja, bukankah dia adalah penyambung dari kenangan-kenangan yang telah membekas ini? Dan sudah lewat, dan sudah tak mungkin kembali, dan sudah menemukan hal baru, dan sudah menghubungi beberapa pengalaman berbeda dari dan sebelumnya.
Oh sialan! Kutu kupret! Kata Mark Manson dalam bukunya sebuah seni untuk bersikap bodo amat gue didiagnosis masuk lingkaran setan, dan. Bajingan, gue nggak mau nyebut dan lagi, karena dan sudah membuat kepala gue dan dan, eh bentar gue kan bukan cewek ngapain menyadari bahwa sebelumnya sudah dan dan, gue cowok normal tak perlu dan dan lagi. Sialan! kenapa gue nyebut dan dan lagi! (Mana bantal, rasakan tinjuku!!)
Dahlah berhenti dan lagi, udah capek. Yang perlu dilakukan dannya harus dan apa yang dilakukan selanjutkan, bukan terus dan dan dan. Eh, dan dan sudah bisa dan dan sendiri, bagaimana bisa? Bukannya dan harus dikendalikan oleh pikiran, kalo dan dan terus dan dan terus dan dan lagi, gimana? Sialan! Gue nyebut dan lagi (Mana tembok, rasakan tinjukku!!)
Pamit menuju kesibukkan masing-masing
Dulu gue memaknai kelas B itu sebagai Berhavior dan Beda (lah, mulai lagi dan nih) tetapi sekarang nampaknya berbeda. Tiga kata yang sering disebutkan oleh teman-teman kelas kalo pas masuk camera Bersama, yaitu berkah, bermanfaat dan bermartabat. Sejauh ini belum ada konferensi resmi dari pihak yang berkepentingan kepada khayalak umum terkait alasan merumuskan tiga kata itu. Oleh karena itu, Penulis berpikir perlu adanya kejelasan informasi terkait hal ini baik diukurnya secara kuantitatif, kualitatif atau bahkan kombinasi (Mix Method). Agar adanya teori kebaruan dan paradigma terhadap persoalan ini terus relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam mencari kejelasan informasi inilah penulis memutuskan menggunakan pendekatan kualitatif deskritif, dengan pengambilan sampling memakai purposive sampling untuk mendapatkan data yang akurat dan sesuai kebutuhan. Ini melibatkan enam pendukung pemilik data, pertama Indra Penglihatan, kedua indra pendengaran, ketiga indra penciuman, keempat indra pengecapan, kelima indra peraba dan keenam pemantauan langsung. Hasilnya sebagai berikut:
1. Berkah
Ilmu yang berkah adalah ilmu yang banyak-banyak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Keberkahan itu lahir dari syukur atas pemberian yang telah diberikan oleh-Nya. Menurut (Rizky et al., 2025) Dalam konteks masyarakat modern, hidup berkah menjadi tantangan yang semakin kompleks. Hal ini dipicu oleh tekanan social, materi, dan tuntutan zaman yang menggorogoti hakikat tujuan hidup manusia tersebut. Nilai-nilai tauhid merupakan kompas yang memandu individu itu untuk kembali kepada tujuan hidup yang sebenarnya.
Artinya adalah, kata ‘berkah’ yang menjadi slogan memiliki makna yang mendalam. Pertama, sebagai bentuk pengingat kepada khayalak umum bahwa seperti yang disampaikan oleh Rizky et al, dewasa ini hidup berkah jadi tantangan cukup sulit untuk diterapkan, mengingat adanya gangguan berupa tekanan social akibat dari perkembangan zaman. Kedua, sebagai bentuk persiapan diri bahwa barisan kelas B harus memiliki pengingat diri untuk senantiasa bersyukur atas segala pemberian-Nya.
Contohnya dapat kelompok yang toxic, ya udah syukuri saja, hitung-hitung lagi latihan bersikap profesional. Dighosting Dosen antara masuk kelas atau tidak, ya udah syukuri berarti ada waktu luang untuk nyantai dulu. Jadinya intinya adalah berkah ini sebagai pengingat untuk berpikir dari beberapa sisi sebelum memutuskan. Sebelum memutuskan itu ada proses interaksi antara akal dan hati untuk menentukan ke mana arahnya
2. Bermanfaat
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia, itulah sepenggal kata yang memiliki makna mendalam. Percuma kita memiliki ilmu tinggi tapi lupa belajar untuk turun, percuma kita mengambil gelar pendidik, tapi terlalu sibuk cari projek luar dan berlindung pada kata, saya sudah memberikan mereka tugas kelompok sesuai disiplin ilmu. Dan percuma mempunyai komitmen satu misi, tapi langkah kakinya berdasarkan kemauan diri sendiri secara diam-diam atau terang-terangan.
Kebermanfaatan harus diiringi dengan ketepatan. Karena kebaikan pun bila ditempatkan di tempat yang tepat, itu sesat. Oleh karena itulah kata bermanfaat ini merupakan desain langkah awal membentuk karakteristik setiap individu untuk selalu mengutamakan manfaat dan ketepatan di waktu yang seharusnya seperti itu.
3. Bermartabat
Setiap manusia itu tentu menginginkan dihargai oleh individu yang lain, tetapi sebelum itu setiap individu harus menghargai dirinya sendiri dulu, agar terbentuk sikap saling, bukan merasa paling atau hanya ingin tanpa melakukan timbal balik. Dalam hal ini kata bermartabat digaung-gaungkan sebagai bentuk penyadaran bahwa dalam melakukan kebermanfaatan tidak cukup adanya ketepatan tanpa adanya saling menghargai antar satu sama lain.
Kebersamaan itu hanyalah sementara, sekuat apa pun kita mempertahankan untuk Bersama, perspisahan akan datang menyapa, meninggal luka, tawa atau bahkan makna yang tidak cukup dilukis dalam satu kali. Gue menyadari setelah dua tahun Bersama dengan teman-teman, inilah waktunya kami berpisah menuju jalan masing-masing. Pasti ada yang langsung berlayar sendiri, berlayar Bersama teman lama, berlayar Bersama teman baru atau bahkan ada yang lebih memilih singgah dahulu. Apa pun keputusannya, semoga Tuhan senantiasa memberikan kelancaran dalam setiap langkahnya.
Akhir kata dari gue, kepada elo-elo semua, meskipun masih ada sisa dua semester gue mengucapkan terima kasih sudah berlayar Bersama dalam naungan B. Dan buat elo yang perintis nama kelas ‘b,b nya berkah’ semoga tenang di alam sana.
Daftar Pustaka
Rizky Ari Prastyo, Aji Tiranto, Wira Abdi, & Marcelino. (2025). Membangun Kehidupan yang Berkah, Tauhid sebagai Sumber Motivasi. Reflection : Islamic Education Journal, 2(2), 53–61. https://doi.org/10.61132/reflection.v2i2.646
0 Komentar