Berpencar Menuju Mimpi Masing-masing

Fotbar Lanang Kelas B
“Bang, gue pamit ya. Terima kasih atas dua tahunnya.” Ucap Mirza berkali-kali kepada gue disela-sela senggang.

“Masa dia jadi pergi, co. Ninggalin kita.” Timpal Ibad.

“Elo sudah siapkan dengan segala resikonya, Za?” tanya gue, berkali-kali juga.

“Gue sudah siap dengan resikonya atas keputusan ini, bang.” Jawabnya dengan yakin.

Melihat tekadnya yang bulat, gue hanya bisa tersenyum, karena walau bagaimanapun itu adalah keputusannya. Di detik itu juga gue baru menyadari, setelah satu teman ngobrol absurd gue pergi menuju pelukan-Nya, satu lagi akan pergi menuju mimpinya, ini memang waktunya.

Barang siapa yang sedang menikmati kebersamaan, tanpa mempersiapkan perpisahan, dia akan menderita oleh kenikmatannya itu.


Mirza dan Yasya, adalah dua orang yang banyak mewarnai hidup gue selama ngampus. Bagaimana tidak, setiap jokes absurd gue oleh orang-orang dianggap garing, bahkan nggak penting, mereka menerimanya sebagai bahan candaan Bersama. Malahan setiap jokes itu dikuliti sampai akhirnya tergantikan oleh jokes terbaru.

“Kenapa kita harus bergotong royong? Dan kenapa Namanya harus gotong royong, kenapa nggak gotong bareng-bareng, kan masih sama?”

Itulah jokes absurd yang dulu pernah jadi perdebatan sengit di antara kami, malahan melibatkan satu kelas saat itu, tolol emang kalo mengenangnya. Mana hampir satu bulanan itu nggak selesai-selesai. Dan makin tololnya ketika gue punya pikiran untuk buat instrument untuk meneliti soal itu, dan elo tahu respondennya siapa? Bukan satu Angkatan lagi, tapi melibatkan kating hehe. Ya Tuhan, ternyata gue pernah setolol itu yah, bisa-bisanya kating mau dijadikan bahan iseng.

Gue belum selesai mempertanyakan gotong royong ini, cuman hipotesis gue berdasarkan rujukan dari skripsi yang kebetulan topiknya membahas ini ada dua kesimpulan. Pertama, ‘royong’ dengan ‘Bareng-bareng’ memang mempunya arti yang sama. Tetapi perbedaannya adalah ‘royong’ memiliki nuansa tersendiri yang di mana sudah melekat dalam Bahasa Sosial masyarakat, sehingga mendengar kata ‘royong’ langsung pada paham.

Kedua, paradigma masyarakat terhadap royong sudah saklek. Tidak akan memudar. Meskipun dewasa ini dapat kita saksikan budaya gotong royong mulai memudar di Masyarakat. Degradasi nilai royong inilah yang membuat gue berpikir, apakah ini karena kata royong sudah tidak relevan atau banyak masyarakat yang hanya asal mengetahui royong tanpa menguliti dalamannya, sehingga ya formalitas aja? Begitulah, cukup menguras pikiran ternyata ketika gue mendalaminya.

“Tidak ada manusia yang bodoh sekalipun, menolak untuk gotong royong dan tidak tahu gotong royong itu untuk apa. Kalo ada coba sebutkan kepada gue siapa manusia yang nggak tahu gotong royong itu untuk apa?” Semprot Azka meluapkan kekesalannya kepada gue.

“Ada kok, bayi yang baru lahir.” Jawab gue dengan santai, membuatnya tersenyum yang siap menerkam.

AMMPUUN DAH!

“Woy! Elo berdua aja dah! Mau pada ke mana, makan siang yuk?” ajak gue asyik, pada dua sejoli yang mondar-mandir.

“Kita mau pulang ini, tapi ayolah kita makan. Gue nggak tahu daerah ini, di mana tempat buat makannya?” Kata mirza yang diiyakan oleh Ahmad.

“Tenang, ikuti gue.” Jawab gue santai.

Itulah awal pertemuan gue dengan Mirza, seingat gue dia trauma naik Angkot dah, sehingga jadi bahan candaan gue sama Ahmad. Aura-aura anak jakartanya masih kuat banget, apalagi rambut gondrongnya selalu mengingatkan gue pada peristiwa konyolnya saat Meet 2 pra ospek jurusan, dia sudah hampir empat kali ditunjuk oleh panitia buat maju ke depan. Buat perkenalan, di hukum dan lain sebagainya.

Ketika ospek universitas pesertanya terbagi menjadi dua, kebagian luring dan daring. Dari jurusan gue ternyata cowoknya hanya tiga orang yang terpilih, yaitu gue, Mirza dan Nizar. Dengar-dengar sih yang lainnya diganti dari luring ke daring. Berhubung gue nggak ada teman pas ikut ospek universitas, yah di hari pertama gue kelayapan dah cari teman ngobrol, rugi aja kalo hanya dengerin materi. Nah, di hari kedua setelah komunikasi sama Mirza, ke mana pun gue pergi nih anak membuntuti gue.

“Elo adalah Panutan gue.”

Kata-kata itulah yang sering keluar dari mulutnya pada waktu itu, entah gue lupa lagi nanya apa, sampai jawabannya seperti itu, tapi yang jelas gue menganggapnya lelucon yang menjadi pengikat pertemanan kami dalam menertawakan muka galak komisi disiplin (Komdis) yang meneriaki para mahasiswa baru. Masih segar diingetan gue pada waktu materi dari BNN dilanjut ke kepolisian, Mirza mengeluarkan satu kardus kecil Tolak Angin, untuk sama-sama diminum.

“Gila, Za. Banyak bat dah elo bawa Tolak Angin. Tapi bagus, gue punya ide.”

“Apa itu, Bang?”

Kami pun meminum tolak angin, dan sepakat untuk tidur, kalo pun ditegur sama panitia tinggal bilang sudah minum obat. Itu beneran kami tidur cuy, sampai materinya selesai, syukurnya nggak kena tegur karena peserta yang lain juga banyak yang tidur.

Ketika jadi maba, melihat komisi disiplin yang tegas dengan raut mukanya yang seram tentu dong membuat mental takut bergemuruh, kena sanksi atau hukuman adalah hal yang harus dihindari agar tidak masuk room hitam. Nah, kocaknya hal ini tidak berlaku bagi gue dan Mirza, bagaimana tidak bro, dua hari pelaksanaan ospek, kami dua-duanya dapat hukuman bahkan masuk room khusus.

“Kita nggak tahu mau diapain nih, Bang. Tapi setidaknya ini kenangan berharga bagi kita, dua hari berturut-turut dapat hukuman.” Ucap Mirza dengan tenang, ketika kami beriringan sambil diteriaki oleh Komisi Disiplin.

WOI! MABA! LARI WOI! PADA PUNYA TELINGA NGGAK LO PADA!

Ketika gue tanya kenapa elo tenang banget, jawabannya karena gue sering bilang ‘Santai aja’ jadi ya udah, nikmati prosesnya. kalo gue tanya lagi, keluar kalimat pamungkasnya, karena elo adalah panutan gue, gitu aja tuh, kocak emang. Teriakan-teriakan dari komdis kadang kami jadi bahan candaan, bahkan di modif dah sesuai kebutuhan. Contohnya kalo sekarang, modifnya kayak begini:

WOI! GARCEP MABA! LAMA BANGET JALANNYA! KAYAK BANSOS KE SUMATERA ACEH AJA!

WOI! ITU BARIS YANG BENAR! INI KENAPA NGGAK SERAGAM! ADA YANG PAKAI ROMPI! PIKUL BERAS! BAWA ALAT OLAHRAGA! LO KIRA KITA MAU PEMILU APA!

GUE TEGASIN PADA LO PADA! DI SINI NGGAK ADA JURUSAN OLAHRAGA! JURUSAN BELA DIRI! SAMA JURUSAN PERTANIAN!

DI SINI HANYA ADA JURUSAN KEMANUSIAAN YANG MEMBERANTAS PELAKU KELONTONGAN BONTOT ROKOK SEMBARANGAN!

Begitulah, setiap teriakan-teriakan yang mungkin disampaikan oleh Komdis ke para Maba untuk peduli akan lingkungan Kampus, dikala pejabat-pejabat Kampus membuat kebijakan menyimpang yang mencedrai lingkungan kampus tersebut, dengan membebaskan buang kelontongan bontot rokok, tanpa peringatan atau dihukum seadil-adilnya.

“Jangan pulang dulu Bang, tidur dulu di Kosan.”

Inilah kata pamungkas dari mirza semenjak semester satu sampai sekarang. Kocak emang, gue suka numpang tidur, enak aja. Mengingat kata Gus Baha, lebih baik banyak tidur dari pada tiba-tiba buat keributan, bikin dosa, ngomongin orang, iri liat pasangan orang, kesal liat aksi kocak pejabat kampus dan lain-lain. Jadi ya, kalo ada yang nanya kenapa gue lebih memilih tidur setelah ngampus, ya referensi gue itu bro.

Pada akhirnya, setiap pertemuan akan ada perpisahan. Meskipun waktunya menurut gue terlalu cepat, tapi biarlah. Yasya pergi menuju ke pelukan-Nya, Mirza pergi menuju mimpinya. Gue nggak tahu apakah dia akan bertahan atau tidak nanti, yang jelas itulah keputusan terbaik menurutnya. Tanpa mereka berdua, mungkin perjalanan ngampus gue nggak berwarna seperti sekarang, selalu jadi alternative bagi kesulitan ngampus.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement