Ketika Di Fase Merasa Sendirian (Membedah dari Teori Psikoanalisis Sigmund Freud)

Foto saat Piching MK Teknologi Digital
Fase merasa sendirian membuat pikiran menjadi subjektif, karena hanya melihat dalam satu perspektif. Faktanya, kita tidak sendirian masih ada beberapa orang yang peduli selain keluarga. Tetapi dengan keberagaman setiap orang dalam mengekpresikan kepeduliannya kepada kita, dalam teori psikologi Sigmund Freud hal ini disebabkan karena kita hanya fokus ke Id (ekspektasi diri) atau Superego (Idealnya) bukan berdasarkan ego (Menerima realitas).

Di sinilah pentingnya kita melihatnya dalam perspektif Psikologi Pendidikan, bagaimana menerima perbedaan tersebut. Karena tidak setiap orang yang tidak peduli, benar-benar tidak peduli. Sebaliknya tidak setiap orang yang peduli, benar-benar peduli, bisa jadi itu hanya topeng palsu.

Dewasa ini, ada fenomena social yang sering kita dengar. Yaitu merasa sendirian di tengah melimpahnya akses keinginan diri. Makan tinggal ‘Klik’ tidak perlu lagi panas-panasan pergi ke kebun, Ingin pakaian baru tinggal ‘Klik’ tidak perlu lagi pergi jauh-jauh ke Pasar, melawan bau apek, menahan emosi ke Supir Angkot yang tak kunjung berangkat, padahal penumpangnya sudah hampir penuh atau mengumpat kesal dalam hati, saat dapat abang-abang ojek yang jaketnya bau.

Selain itu, tidak ada tembok yang menghalangi kita untuk berkomunikasi dengan kerabat yang jaraknya beberapa ratus mil, tinggal satu ‘Klik’ segala informasi yang ingin kita sampaikan, sudah diterima. Tetapi kemudahan akses tersebut, melahirkan gejala social yang membuat penggunanya burnout, depresi, kesepian, merasa sendirian dan lain sebagainya.

Kenapa semua kemudahan akses tersebut, membuat manusia itu sendiri kesepian?
Ada beberapa factor sih, diantaranya: Kurang mampu dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, adanya gap standarisasi setiap orang, fomo, tidak memiliki prinsip dan lain-lainnya. Semua orang sudah pasti melalui fase merasa sendirian ini. Di sinilah istilah manusia pengecut, pemberontak dan penurut dibentuk. Karena takut tidak diterima oleh lingkungan atau bodo amat dengan hal tersebut.

Gue pernah berada di posisi ini, tepatnya pas awal-awal ngampus. Ekspektasi gue tuh kampus itu pusat ruang-ruang diskusi yang beragam, setiap obrolan ada dagingnya, setiap mengerjakan tugas nggak mengutamakan formalitas, melainkan profesional benar-benar berdasarkan kajian riset baik di lapangan maupun study literatur. Eh, kenyataannya tidak seperti itu. Gue kelabakan, marah pada kenyataan, geram setiap kecurangan-kecurangan akademik dianggap normal, bahkan berpikir kritis dicap musuh, tapi masalahnya gue bingung tidak bisa apa-apa, karena perlahan gue juga diperkosa untuk beradaptasi dengan sistem budaya bajingan ini.

Dan satu hal yang sering membuat gue resah, betapa susahnya mendapatkan sirkel pertemanan yang benar-benar melek akan diskusi, tidak berorientasi melulu pada nilai-nilai IPK, melainkan pada realitas social dan aksi nyata. Gue fanatik banget akan hal ini. Sempat nekad juga pergi mencari ke berbagai jurusan dan fakultas, tapi belum mendapatkannya. Semua yang gue temuai rata-rata hanya fokus kepada diri sendiri, gadget, nilai IPK, haus validasi, lantang mengkritik kebijakan Kampus, fashion, uang, kata teman saja, kata senior, dan berpura-pura nyaman dengan sistem bajingan berantai tersebut.

Pernah sih gue mendapat teman yang sefrekuensi, tapi sering Tarik ulur atau ada lagi kami beda fakultas, dia nggak ada waktu untuk bertemu, gue nggak mau ngemis-ngemis memintanya karena dalam teori kesadaran Paulo Freire yang gue pegang, itu sia-sia. Kesadarannya tidak mau ke tahap kritis, melainkan nyaman di tahap magis atau bahkan naif. Sampai akhirnya di semester lima, gue berada di kesimpulan akan hal ini “Yeah, yaudahlah” gue berhenti berharap dan berhenti mencari teman yang sefrekuensi untuk diskusi mendalam. Karena meskipun tidak ada, Tuhan senantiasa memberikan gue ide kreatif untuk melakukan hal lain.

Satu hal yang membuat gue bertanya. Ini karena gue salah masuk lingkungan atau gue yang salah, karena lingkungannya terlalu berkualitas, bermoral dan beretika dalam menerapkan nilai-nilai akademik. Sehingga gue kesulitan dalam beradaptasinya? Mungkin ya.

Atas apa yang gue alami tersebut, atau bahkan kita semua yang pernah berada di fase merasa sendirian. Kalo kita mengaitkannya dengan Teori Psikoanalisis Sigmund Freud, disebabkan adanya perang batin antara id, superego dan ego. Definisi dari Id adalah dorongan untuk mencari kesenangan instan, kayak anak bayi, kalo lapar tinggal nangis, nggak suka tinggal nangis, nggak mau tidur nangis, nggak mau MBG, eh kebablasan co hehe. Yeah, intinya kemauan yang cepat untuk benar-benar langsung ada, contohnya maunya bayi gemoy program MBG di hapus karena sudah kenyang, ya udah sikat semua apa pun alasannya.

Superego adalah dorongan untuk mengikuti norma-norma social yang berlaku di Masyarakat. Kita pakai satu contoh tadi saja biar nggak ke mana-mana, nah misalnya ada Bayi yang nangis nggak mau makan MBG karena dia butuh Pendidikan nggak mahal, akses mudah, biaya buku disubsidi, pajak bukunya diturunin jadi 2 persen saja, lah karena nilai-nilai social dan aturannya hanya mengharuskan si Bayi makan MBG, ya udah pokoknya harus makan dan menerimanya setiap hari. Kalo melawan, berarti tidak taat pada aturan.

Ego adalah penengah dari Id (kemauan instan) dan Superego (Tuntutan nilai-nilai social) agar keduanya dapat stabil. Dengan menggunakan ego, di Bayi berpikir kenapa tadi Id (kemauan instan) tidak mau makan MBG, dia tidak menangis, melainkan mencari tahu beberapa referensi terkait untuk menentukan landasan berpikirnya apakah berada di pihak pro atau kontra? Jadi bijak penempatannya, bukan melihat dalam satu sudut saja. Hal ini berlaku pada Superego (nilai-nilai yang berlaku di Masyarakat) tadi, kalo si bayi tidak mau makan MBG, apa yang harus dilakukan? Apakah MBG nya tetap diambil lalu diberikan kepada temannya yang masih lapar? Atau diberikan ke Anjing kesayangannya? Karena menurut Anjingnya makannya seperti yang dimilikinya. Jadi si Bayi tak perlu membeli Pedigree.

Perang batin tersebutlah yang membuat kita bingung dengan kondisi yang dialami. Kalo kita menuruti Id, kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki kesibukkannya sendiri, prinsipnya sendiri, cara sendiri untuk peduli, kita tak bisa memaksanya untuk melakukannya sesuai yang kita inginkan padanya. Dan kalo kita menuruti Superego, emang salah yah nggak punya teman? Kita seharusnya sadar bahwa semua orang mempunyai kesibukkan, tak etis kalo terus memaksanya? Gitu aja tuh polanya.

Maka dari itu, kita memerlukan ego untuk menetralisirnya. Berada di fase merasa sendirian itu nggak salah, semuanya hanya soal waktu. Kalo kita benar-benar serius mencari lingkungan yang sportif, ya pasti akan mendapatkannya. Kalau pun tidak serius, ya udah tinggal cari alternative lain, bisa ke mendalami minat atau hobi yang disukai. Karena setiap orang beragam, tentu cara menjemput bolanya pun berbeda sesuai rute dan strateginya masing-masing. Berhenti menghakimi cara orang, lebih baiknya pererat hubungan.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement