Pengajian Sore saat KKM HMJ PNF di Kamp Seklok - Lebak 2024
"Orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, akan terlihat nanti di KKM. Dia jarang ke posko, dekat dengan warga, bahkan warganya sering nanyain dia. Sebaliknya, bila dia di posko aja tuh, kemungkinan nggak aktif orangnya. Kita lihat aja nanti." kata A Gilang dulu, memberikan sekapur sirih mengenai persiapan mental untuk KKM HMJ 2024.
"Biasakan bangun Pagi, pakai baju himpunan. Lalu elo keliling ke Rumah-rumah warga. Lakuin aja dulu, nanti juga kerasa dampaknya." Kata A Yogi di Lokasi KKM dulu, saat ronda malam.
"Kalo kegiatan sudah selesai, jangan lupa ramah-tamah ya guys!" Kata kating, yang terus mengingatkan.
Gue kira itu hanya sebatas kata. Tapi setelah menerapkannya langsung, dampaknya panjang, bukan ketika kkm, bahkan setelah dua tahun pun apa yang telah gue lakukan itu selalu menjadi inspirasi untuk senantiasa peduli lingkungan.
Dua hari kemarin, setelah lembaga Riset dan pengabdian Universitas membuka pembukaan KKM, terjadi perang pendaftaran, semuanya ingin cepat-cepat daftar. Bahkan sebelum menentukan tujuan ikut KKM apa? Panduannya seperti apa? tidak digubrisnya, ya wes sing penting sudah daftar duluan. Prinsipnya, siapa cepat dia bakalan dapat. entahlah, siapa yang buat woro-woro itu.
Melihat keramaian itu, gue hanya tersenyum geli. kok bisa yah, pada war? kayak fomo aja gitu. lagian apa spesialnya sih KKM, sampai segitunya? sampai akhirnya gue tahu dibalik adanya war ini setelah berbincang dengan teman di Perpustakaan Universitas, menurutnya biar kebagian kuota. Dan dia cukup terkejut ketika tahu bahwa gue belum daftar.
What! Ko bisa elo sesantai itu, Co?! ujarnya, lalu mencecar gue dengan pertanyaan selanjutnya. Ada yang salah kah dengan sikap gue ini?
Di Grup kelas, teman gue memberikan informasi terkait pendaftaran harus segera dilakukan, biar nggak ketinggalan. Informasi ini membuat gue berpikir untuk meninjau KKM sebelum-sebelumnya yang telah dilakukan. Bagaimana dampaknya di Masyarakat? Apakah program-program yang dibuat, setelah ditinggalkan masih berjalan atau tidak? Bila tidak berdampak dan tidak berjalan, apa yang menyebabkan itu terjadi? Upaya apa yang harus kita lakukan agar di pelaksanaan KKM nanti, tidak terjadi lagi? Ini yang pikirkan.
Selama seharian gue mikirin ini, meninjau dari pengalaman teman gue yang sudah melaksanakan KKM di gelombang sebelumnya, meninjau dari teori-teori yang terkait soshum, dan meninjau dari apa yang telah gue pelajari. Apakah terjawab semuanya? Tidak, pikiran gue mentok dan ya udah nggak gue lanjut dah.
Tuhan memang maha baik, selalu memberikan jalan atas kebuntuan jalan pikiran hamba-Nya. Ketika gue mau masuk ke perpustakaan Universitas, ada seseorang yang memanggil nama gue. Di situ gue bersyukur sih, bukan karena dia cantik, cerdas, imut, lucu hehe. Bukan. Jauhi pikiran itu. Tapi karena berdasarkan perbincangan dengannya, menambah insigt gue terhadap KKM ini. Program-program kelompok dia dulu nggak spesail-spesial amat sih katanya, tapi yang menarik perhatian gue adalah di program pemetaan sosial.
Di Program ini membawa gue nostalgia dengan Desa Umbul Ponggok, di Yogyakarta. Salah satu Desa terkaya di Indonesia. Jadi awal kejayaan Desa Umbul Ponggok itu dimulai dengan riset pemetaan sosial dan lingkungan. Untuk melihat tempat-tempat yang berpotensi untuk dimanfaatkan. Begitulah seterusnya dan seterusnya.
"Elo udah daftar belum, Co."
Gue melihat pesan yang masuk ini, ternyata dari teman gue namanya Anah. Bukan hanya bertanya, tapi dia juga mengirimkan link untuk segera gue daftar biar ke bagian kuotanya. Ada rasa deg-degan ketika gue membukanya, sebagai manusia biasa gue juga takut kehabisan kuoata nih, mana gue malas lagi kalo berurusan dengan administrasi kampus, ribet cuy. Kayak kasus korupsi (Waw)!
Alhamdulillahnya kuota pendaftaran masih banyak, sekitar seribu orang lagi. Yang tersisa hanya dua KkM Tematik, yaitu Tematik Literasi dan Tematik Pondok Pesantren. Untuk KKM Tematik Literasi, kata teman gue yang kita panggil si 'Lucu milik orang' itu, Programnya sudah disiapkan oleh Universitas, jadi kita tinggal jalani aja. Belakang setelah gue riset, wajar sih disiapkan oleh Universitas wong sebagai implementasi dari program Perpusnas untuk meningkatkan literasi Masyarakat.
Tematik Pondok Pesantren, menarik perhatian gue. Dari kuotanya yang Unlimited gue berpikiran bahwa ini produk uji coba. Tapi sepertinya seru nih. Akhirnya seperti biasa, gue nggak buru-buru daftar, fokus riset dulu untuk memilih Tematik Literasi atau Tematik Ponpes. Dua-duanya sih oke, nggak ada yang nyaman kok, tapi setidaknya gue memilih berdasarkan data dan potensi, bukan emosional.
Berdasarkan kajian gue sih, cukup kesal dengan pihak Universitas. Kenapa gitu tidak ada sosialisasi dulu terkait KKM ini? Kan kita nggak tahu yah, perbedaan KKM Reguler, Literasi dan Ponpes itu ngapain aja? Tiba-tiba disuruh mendaftar aja, Elo kira kami kaum Proletar apa, bangke emang. Gue berani bilang seperti ini faktanya memang begitu, di lembaga Universitas nggak ada informasi terkait sosialisasi, kalo gue salah ya udah gue terima kok. Cuman kocak aja gitu, di hal kecil aja manajemennya diabaikan, apalagi di hal besar (Eh, menurut keyakinan saya ini mah).
Menyoroti KKM Tematik Literasi sebelumnya, program-programnya nggak berlanjut, kayak formalitas aja gitu. Bahkan, ramah tamah ke para Warga aja jarang katanya. Lah, kata gue mah kenapa disorientasi KKM begini yah? Untuk itulah berdasarkan dari beberapa pertimbangan, gue memilih KKM Tematik Pondok. Cakupannya lebih spesifik aja gitu, elo nggak perlu mikir mau tidur di mana, bawa-bawa perabotan yang menggunung, nggak, semuanya sudah lengkap di lokasi. Tinggal siap-siap aja dengan segala resikonya.
Tiga hal utama yang menjadi pertimbangan gue memilih Tematik Ponpes ini. Pertama, gue sudah pernah mengalami bagaimana rasanya KKM di Desa seperti apa, masalahnya apa saja, apa saja yang harus dilakukan, semuanya sudah pernah gue lalui di KKM HMJ PNF Untirta 2024, bersyukur gue ikut kegiatan ini. Kedua, KKM Tematik Ponpes selaras dengan jurusan gue di Kampus. Bisa tuh gue menerapkan pembelajaran Andragogi, Pemberdayaan berbasis Pondok, Pelatihan dan lainnya, semuanya sudah tergambar di benak gue.
ketiga, persepsi Masyarakat terhadap Ponpes sudah tidak relevan dan lain sebagainya sering kita dengar. Keterampilan yang dimiliki oleh setiap Santri tidak tergali, disebabkan oleh fasilitas yang tidak ada. Budaya hafalan yang menggeser budaya dialog antara Guru dan Santri, perlu menjadi perhatian serius. Yeah, ini berdasarkan hasil perbincangan gue dengan teman yang pernah Mondok di salah satu Ponpes yang punya nama besar di Masyarakat.
Prihatin sih gue mendengarnya, tapi faktanya memang seperti itu. Tentu kita juga harus berpkir objektif, tidak semuanya kok Ponpes seperti itu, mereka punya keunggulan dan kekurangan masing-masing. Lumayan menantang sih KKM ini, tapi kita coba lihat nanti saja dah, yang jelas gue nggak mau berekspetasi tinggi, apa pun yang terjadi semoga Tuhan senantiasa memberikan gue jalan kelancaran.
0 Komentar