Bersama Yogi, Rudi dan Farhan
“Momen yang menyenangkan adalah saat kita mau pulang dan melihat Gunung yang sudah daki, ada rasa Bahagia yang menyeruap ke dalam diri kita, antara percaya atau tidak, kita sudah selesai mendakinya.” Ucap Faris, salah satu kenalan kami di pos 3.
“Emang Abang sudah mendaki Gunung mana saja nih?” Tanya kami penasaran mendengar pengalamannya.
“Lumayan, salah satunya Bromo. Rekomendasi banget dah, kapan-kapan boleh kalian coba, vibesnya keren banget.”
Obrolan terhenti ketika gerimis mulai menyapa, kami pun pamit untuk segera turun ke pos selanjutnya. Satu hal yang dapat kami simpulkan dari pendakian kali ini, kadang kebahagiaan bukan berpaku pada hasil, tapi pada prosesnya yang Panjang. Dan di setiap perjalanan tersebut, selalu ada pelajaran yang dapat kita petik.
Kemarin, dengan modal nekad dan waktu yang mendadak kami berangkat mendaki ke Gunung Aseupan. Kenapa bisa mendadak? Belajar dari kesalahan sebelumnya, kalo persiapannya lama hanya jadi wacana, jadi selagi waktu cukup senggang dan ada sedikit uang, ya udah di gas. Kami benar-benar nekad, uang pasan-pasan, sampai pas bayar registrasi nawar tipis-tipis hehe, kocak emang tapi faktanya begitu guys. Ada hal kocak lagi, yaitu sebelum berangkat, personel baru ada Gue, Yogi dan Rudi, di situ kita mikir cari satu lagi siapa yah.
“Hallo Kasep, lagi apa nih, Muncak yuk?” Tanya Rudi yang mulai menghubungi temannya.
“Gue barusan mandi nih. Waah boleh, kapan nih?” Tanyanya dengan antusias.
“Sekarang nih, gue jemput ya ke Rumah elo.”
“Lah! Dadakan banget! Gue ada kewajiban mau mengajar sekarang mah.” Jawabnya.
“Iyah kami juga dadakan ini. Untuk mengajar minta dispen dulu aja dah, Han. Shalat aja bisa didispen.” Dengan entengnya.
“Bukan apa-apa ini mah, Rud. Gue punya kewajiban mengajar, lagian duit gue juga mau pakai buat nonton persija. Gue pikir-pikir dulu dah.”
“Udahlah, ngapain dipikir-pikir, gasin aja.” Nego Rudi
“Okelah.” Jawab Farhan akhirnya.
Gunung Aseupan, ketinggiannya lumayanlah sekitar 1114 mdpl. Tadinya kami ma uke Gunung Pulosari, tapi dengan waktu yang mendekati siang, perjalanan ke Gunung Aseupan lebih bershabat. Buat gue, ini adalah kali pertama mendaki, setelah sebelum-sebelumnya selalu gagal dan gagal. Bahkan gue nggak suka dengan aktifitas ini, yang ada dalam pikiran gue pada waktu itu, apa sih esensi dari mendaki? Cumaan naik, istirahat sebentar di atas, lalu turun lagi. Pemikiran ini bergeser ketika gue mulai aktif berolahraga, wah sumpah banget gue gatal banget ingin beraktifitas yang positif sekaligus menantang, salah satunya mendaki ini.
di Gerbang awal
Biaya registrasi mengalami kenaikan, menurut penuturan si Rudi sebelumnya 25 k, tapi dibantah oleh si Yogi, harganya naik 30 k plus parkir motor 10 k, mampus banget mana bawa uang pas-pasan haha. Mendengar informasi tersebut, si Rudi sempat bertanya kepada kami, gimana ini? Si Yogi dengan pengalaman mendakinya memberi ketenangan bahwa, ya udah santai aja kita bareng-bareng hadapi masalah-masalah yang menghadang, tujuan besar kita mendaki, jadi selagi masih di bawah, ya hadapi jangan terdistraksi mengeluh dan mengeluh oleh masalah-masalah kecil, yang sebenarnya kalo dikomunikasikan ada solusinya. Dari perjalanan mendaki, gue mengambil beberapa pelajaran yang dapat dipetik, diantaranya:
1. Disiplin itu kunci kebugaran dan kesuksesan
Meskipun gue pemula sebagai pendaki, tapi gue nggak mau terlihat fomo banget. Bawa-bawa Tas besar, outfit harus lengkap dan bawa-bawa tongkat, sampai bela-belaian sewa. Bagi gue nggak perlu berlebihan, gunakan saja outfit seadanya, kalo nggak ada tongkat tinggal ngambil kayu yang tumbang. Dalam hal ini, meskipun gue pemula tapi tidak mau mencerminkan bahwa gue adalah pemula, harus tetap strong! Gue bersyukur seering ‘run’ dan ‘workout Rumahan’ ini cukup membantu. Menghadapi jalanan yang terjal, curam, kaki gue masih kuat menginjak, nafas pun terkontrol dengan baik, nggak ‘hos-hos-hos’ banget. Kebiasaan ini telah membawa gue ke suatu dunia yang lain, bahwa menghadapi situasi apa pun gue nggak sibuk mengeluh, tapi perlahan bangkit sambil mencari solusi yang kongkrit, dan hasilnya gue berhasil menaklukkan rasa capek untuk terus melangkah.
2. Kita harus siap sendirian, terlepas takut atau bingung
Di pos 1 dan pos 2, gue mendaki bersama mereka. Sampai di pertengahan, gue mulai berpencar meninggalkan mereka di belakang. Banyak pendaki yang bertanya sama gue, sendirian aja Bang? Gue jawab sama teman, mereka masih di belakang. Ada rasa takut ketika gue benar-benar sendirian menuju puncak, jalanan begitu curam, tidak ada pendaki yang lewat, apakah gue harus melanjutkan? Iyah. Sambil melihat ke belakang, gue tersenyum, inilah proses kita harus siap sendirian, saat teman-teman yang kita anggap sefrekuensi sebelumnya mulai meninggalkan kita: karena kita yang duluan melesat atau kita yang tertinggal, keduanya adalah seleksi alam. Kita tak perlu sibuk menyalahkan keadaan, kenapa saya sendirian? Kenapa tidak ada teman yang satu pemikiran dengan saya? Dan kenapa ini begitu menakutkan? Begitulah.
Alih-alih sibuk bertanya seperti itu, cobalah ganti dengan pertanyaan, untuk apa saya di sini? Kenapa saya harus melakukan ini? Inilah kalo kita ketemu jawabannya, akan menjadi penguat untuk kembali berproses meskipun sendirian. Terbukti, gue lanjut berjalan melawan ketakutan yang diciptakan oleh ilusi. Karena adanya gue di situ untuk menantang diri dan gue melakukan itu untuk melihat seberapa kuat mental gue bertahan dalam gempuran-gempuran perjalanan yang curam. Dalam hidup pun begitu, bila kita merasa ‘stuck’ atau ‘burnout’ tanyakan untuk apa saya di sini dan kenapa saya harus melakukan ini?
3. Kita harus bersyukur bertahan sampai sejauh ini
Mendaki, bukan seberapa cepat kamu sampai. Tapi seberapa kuat kamu bertahan.
Entah ini kata-kata gue dapat dari mana, tiba-tiba terlintas dalam benak gue. Ketahanan mental dan fisik lagi diuji ketika kita mendaki, proses perjalanannya bebas mau cepat atau perlahan, yang terpenting seberapa kuat kita bertahan. Menatap jalanan yang curam, kita pasti sering ngedumel, ‘Buset dah, tinggi banget ini co!’ tapi secara terpaksa kita melewatinya. Dalam hal ini, ketika kami turun dari puncak, ada satu keanehan yang membuat kami berpikir ‘Wah, jalanan yang curam ini ternyata tadi sudah kita lewati’ kata-kata ini sering kami ucapkan. Ada kebanggan yang menyeruak ke dalam diri saat menyadari bahwa jalanan yang mudah dilewati itu, susah payah sekali dilewati sebelumnya. Yeah, kita harus bersyukur kepada diri sendiri, sudah jauh bertahan dengan berbagai tempaan ujian yang curam, terjal bahkan menjengkelkan. Rasa syukur itu tidak akan datang dengan sendirinya, tapi dipanggil dengan refleksi mengingat-ingat momen-momen sulit yang pernah kita lewati. Bisa itu ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya, gagal ikut perlombaan, cinta bertepuk sebelah tangan, nggak dapat MBG (Eh). Begitulah.
4. Dari lingkungan yang tepat, kita dapat support yang tepat juga
“Bang, mau naikkah? Semangat Bang!”
“Mau turun Bang? Semangat!!”
“Duluan Bang, semangat-semangat!”
“Sekitar lima menit lagi sampai, Bang!”
Kata-kata itu banyak kita dapatkan saat berpapasan dengan orang-orang yang kita temui di jalanan. Kita sama-sama memberikan support, bukan mengedepankan mental crab, yang sering kita temui di dunia Pendidikan atau dunia kerja. Hal ini membuat gue berpikir, kenapa yah? Menarik aja buat dijadikan proyek riset dengan judul “Analisis Support ‘semangat bang’ terhadap daya tahan tubuh dan mental di Gunung Aseupan terhadap para pendaki’ ini kalau kualitatif, sedangkan kalau kuantiatif bisa kita spesifikan lagi seperti: ‘Pengaruh support ‘semangat bang’ terhadap daya juang para pendaki di Gunung Aseupan’ Wah, nggak kebayang gue kalau ide ini nanti bisa gue implementasikan. Kenapa bisa seperti ini yah, apakah karena kita satu tujuan sehingga saling support? Apakah karena budayanya seperti itu, sehingga yang pendaki baru-baru ini hanya mengikut saja? Atau karena factor lain yang membuat mereka terpengaruh mengikutinya? Ini menarik dibedah.
Untuk sementara, gue menyimpulkan bahwa kita ini satu tujuan. Dan inilah gambaran lingkungan yang tepat, yang benar-benar setiap orang mengetahui batas kemampuannya sendiri, tanpa merebut kemampuan orang lain, atau iri. Kita sadar kemampuan diri sendiri batasnya untuk berhenti dulu, ya udah berhenti, nggak memaksakan untuk terus lanjut. Alih-alih menyalahkan keadaan, kita memberikan support pada orang lain, dan kita pun diberikan support lagi oleh yang lain, wah nggak ada yang rugi. Di sini mulai lagi nih ide untuk riset, apakah karena adanya lingkungan yang tidak supportif karena yang ‘iri’ tidak dapat support dari yang lain untuk lanjut lagi? Waduh, makin liar aja nih pikiran.
Perjalanan kami banyak terhenti, karena setiap berpapasan dengan orang lain, kami saling berbincang santai. Ini momen yang menyenangkan bagi gue, di mana kita gampang bersosial dengan orang baru. Seperti misalnya di pos 3, kami istirahat sejenak, di kejauhan gue melihat ada dua orang yang sedang bersantai setelah selesai membuat tenda, gue datengin tuh sambil berbasa-basi, mau nge-camp bang? Dan obrolan kita nyambung, akhirnya apa coba, si Yogi, Farhan dan Rudi ikut bergabung.
5. Tak perlu iri dengan pencapaian orang lain
Melihat teman-teman sekeliling kita sudah menemukan kesuksesannya, sedangkan kita masih ‘stuck’ aja, nggak perlu iri berlebihan. Wajar sih kalo sebatas iri mah, itu sifat manusiawi, tapi kita harus mengontrolnya. Dari pengalaman kemarin, melihat ada yang istirahat sejenak, ada yang lanjut tanpa jeda, gue menyimpulkan bahwa semua orang sedang berproses dengan kapasitas masing-masing. Dan kembali lagi, kita harus saling supportif antara yang menyalip dengan yang tersalip, bukan malah adu ‘klakson’ kayak lagi pawai aja hehe.
Jack Ma pernah berkata: “Ketika melihat orang sukses, kita hanya fokus pada kesuksesannya. Tapi kita lupa mempertanyakan bagaimana proses perjalanannya dalam mencapai kesuksesan tersebut.” Dalam hal ini, kalo melihat pendaki yang cepat banget menuju puncak, kita harus berpikir bijak, bagaimana dia bisa secepat itu? Berapa lama waktu yang dia habiskan sebelumnya sampai bisa secepat itu mendaki? Rasa sakit apa yang dia terima selama proses pembiasaan tersebut? Dan lain sebagainya. Ini penting untuk kita gali, agar dapat mengambil pelajaran dari pengalamannya dan kita bisa mengukur diri untuk menaikkan kapasitasnya.
Itulah Lima poin yang dapat gue pelajari dari mendaki kemarin, banyak hal yang tidak bisa gue sampaikan di sini karena keterbatasan waktu dan belum adanya sinergitas yang baik antara pikiran dan ketikan, yeah alamat ini mah gue harus rajin-rajin lebih berlatih menulis. Terakhir yang mau gue sampaikan adalah, jangan sendirian naik gunung, kalo tadinya berkelompok jangan ditinggalkan begitu saja terlepas kondisisnya seperti apa, justru dengan adanya saling tunggu bukan saja kita sama-sama mengerti tapi bentuk dari tanggung jawab kita mengajak mereka untuk mendaki.
Lah, terus kenapa gue sendirian kemarin meninggalkan teman sendiri? Yeah, ini gue akui salah besar, terlepas gue sampai puncaknya duluan meskipun baru, ini bukan soal kebanggaan tapi tidak setia kawan. Beruntung gue tidak kenapa-napa, bayangkan kalo gue terjatuh atau ada hal lain terjadi, bikin repot dan mau tak mau mereka juga ke seret tanggung jawab. Jadi, tetap bersama dalam kondisi apa pun. Boleh ditinggalkan bila tidak kuat, di pos yang terdekat.
0 Komentar