Jatuh Ke Pelukan Tuhan

Sumber foto dari HMJ PNF
Co, abis ini elo luang nggak atau ada kegiatan di luar?” Tanya Yasya ketika gue memasukkan buku ke Ransel.

“Lumayan sibuk, gue lagi ada target. Yeah ada janji juga sama Najwa. Kenapa Sya?”

“Pikiran gue lagi mumet banget, mau ngobrol sama elo. Bentar doang kok.” Pintanya

“Oke, ajak Mirza ya.” Jawab gue tanpa berpikir dua kali, entahlah biasanya gue pikir-pikir dulu.

Dia mengangkat tangan oke. Tanpa gue sadari ternyata itu adalah obrolan terakhir, cerewet terakhir, jokes absurd terakhir dan curhatan terakhir.

Siang tadi, setelah selesai perkuliahan di grup para cowok di kelas gue ramai oleh kabar kematian yang masih abu-abu. Pemilik informasi pertama adalah Arik, yang langsung ditanggapi oleh Ibad dan Mirza. Ketika mendengar kabar yang masih abu-abu itu gue cukup terkejut, lalu ikut terlibat dalam pertikaian.

“SERIUS ANJIR, ARIK!” Kata Ibad, yang dibalas oleh Arik meminta Mirza untuk bertanya langsung kepada pasangannya. Di detik kemudian kabar yang sebenarnya datang, membuat kami berkabung.

‘Ouh yah, ya udah.’ Inilah tanggapan gue ketika kenyataan itu benar-benar terjadi. Singkat, namun mewakili semuanya.

Mungkin Tuhan cemburu sama Cinta elo yang besar. Dan hari ini elo nggak perlu repot-repot jatuh Cinta, karena elo sudah jatuh ke pelukan-Nya.

Yasya, itu Namanya. Gue nggak terlalu dekat, pun terlalu jauh, ya setengah-setengah dah. Obrolan apa pun bahkan absurd sekalipun Ia akan terima, kecuali elo bilang kepadanya mau me-wawancaranya serius, pasti! Dia akan menolak mentah-mentah, soalnya itulah yang tidak disukainya. Gue pernah mencobanya, eh buset! Malah diceramahi Panjang lebar. Dialah satu-satunya orang yang paling berani mengkritik, menentang dan bahkan mengatai gue ‘Tolol’ kalo lagi membuat kesalahan atau nge-jokes nggak nyambung.

Perbincangan gue dengannya dimulai waktu pemilihan ketua kelas di semester satu. Hasil voting milih gue untuk jadi ketua kelas, tapi gue tolak. Yasya terus membujuk gue sampai ke akar-akarnya, membuat gue mikir anjay juga ini anak. Di detik-detik akhir negosiasi gue bilang kenapa nggak elo, gue perhatikan cocok banget jadi ketua kelas. Gue beberkan tuh alasan yang logis berdasarkan hasil analisis, sampai pada akhirnya dia jujur mau jadi ketua kelas karena melihat minat teman-teman yang nggak mau, mungkin malu. Tapi dia khawatir nggak akan diterima oleh teman-teman, toh secara hasil voting aja udah kalah.

Gue pun tersenyum penuh kemenangan mendengar kekhawatirannya, okay tinggal dipoles satu kali lagi, urusan beres. Kebiasaan dia yang rata-rata cewek lakukan adalah mengedit foto pribadi, agar terlihat lebih wow! Gitu sebelum di posting.

“Kadang gue suka aneh sama cewek, yang posting foto tapi mukanya ditutupi sama emoji bunga dan sejenisnya, maksudnya buat apa ditutupi kalo di posting.” Ucap gue yang membuatnya ketawa.

“Nih! Kayak begini, Co!” Sambil memperlihatkan foto di Hp-nya ditutupi emoji.

Setelah mendengar bahwa Ia telah pergi untuk selamanya, apakah gue sedih? Tentu. Apakah gue menyesal? Tidak, karena gue telah beruasaha memperlakukannya dengan baik sebagai teman. Terdapat perbedaan curhatan Dia kemarin dengan biasa-biasanya. Kalo biasanya nih, dia curhat sering menggantung, lalu beralih ke topik yang lain. Atau Dia bilang gue mau pergi dulu, buru-buru banget. Dan ini yang kadang membuat gue kesal, abisnya kayak kurikulum Pendidikan aja hehe. (Elo sering ketawa ngakak kalo dengan sarkas gue, Sya. Meskipun kata orang-orang nggak jelas).

Sedangkan di curhatan kemarin dia lebih banyak ngomong Panjang lebar, tanpa memberi gue sekat untuk menyanggah. Kocaknya lagi, gue kayak orang ‘Bloon’ yang iya-iya aja sambil mengangguk-anggukan kepala. Iya aja kalo sebentar, ini hampir satu jam Co! Mana di kantin lagi ramai lagi, tapi ya itu cuek-cuek aja. Setelah berakhir gue bilang nggak bisa ngasih solusi terhadap masalahnya, bukan karena gue Capek karena solusi yang gue berikan akan dijadikan angin lewat, tapi gue sadar tipe sepertinya hanya butuh didengar, bukan dikasih solusi. Dia bertanya kepada gue, kenapa nggak memberi solusi seperti biasanya, elo takut solusi itu malah menambah masalah? Gue ketawa dan menjawab, elo udah dewasa dan sudah tahu solusinya.

“Kocak, gue nggak bisa mikir anjir! Lagi mentok  banget, gimana lagi ya biar masalah gue kelar.” Ucapnya.

“Tanpa elo sadari sebenarnya udah ketemu solusinya Sya, pas bagian saling terbuka maunya dibawa ke mana masalah ini, elo ngobrol baik-baik. Tapi kembali lagi, itu menurut elo tapat atau enggaknya.” Jawab gue.

“Anjir! Di bawa Co! Berat dong gue bawa-bawa masalah haha.” Celetuknya Nge-jokes Absurd. Lalu melanjutkan “Eh, Minggu depan cowok gue mau ulang tahun, gue mau ngajak elo dan Mirza ke UIN. Kira-kira ngasih surprise apa ya bagusnya?” 
“Gue kurang tahu begituan, pikir-pikir aja dah, Sya.”
Obrolan gue berakhir dengannya saat ada Bang Rusdi gabung. Sambil membawa berkas, Dia mengumpat hari ini yang membuat dia stress.

“Anjing! Babi! Capek banget gue hari ini, stres berat! Elo bayangin, gue di oper-oper dari Administrasi Universitas sampai ke Jurusan untuk mengurus berkas ikut PLP. Tadi kalo telat dikit, gue pasti harus lama nunggu di hari yang lain.” Ucap Bang Rusdi yang langsung ditanggapi oleh Yasya, yeah mereka memang dua sejoli yang nyambung kadang akur atau adu argument.

“Bang, kalo KKN kita tidurnya di mana?” Tanya Ito dengan polos saat kami asyik ngobrol random.

“Ya, tergantung. Begini nih!” Jawab Bang Rusdi sambil mempertontonkan aksi orang digantung.
HAHAHA! Jujur ini membuat ketawa kami pecah, apalagi Yasya yang paling kencang. Menghiraukan tatapan orang-orang di kantin yang mengarah kepada kami.

Selesai dari situ, selama tiga hari jokes ‘tergantung’ selalu menjadi bahan ketawa gue dan Yasya. Entah itu lagi di kelas, maupun pas perkuliahan. Dan selama tiga hari itu, dia selalu menyempatkan ngobrol disela-sela senggang. Tapatnya Dosen belum masuk kelas, dia bercerita Panjang lebar tentang hal-hal yang belum gue dengar darinya sebelumnya, sampai gue berhenti main game football dulu untuk focus mendengarkan. Baru gue tahu ternyata Dia salah satu Siswi langganan ikut lomba Nasional mewakili Sekolah, berbarengan dengan rival cowoknya dari Sekolah lain. Tetapi naasnya ketika lomba di Balik Papan di-Marginalkan oleh pihak Sekolahnya.

“Kocak banget pihak sekolahnya. Udah mah di Balik Papan, malah situasinya dibalik lagi haha.” Ucap gue nge Jokes, yang membuat kami tertawa.
Ketika Dosen masuk, memberikan materi, Yasya mengajak gue ngobrol. Itu yang membuat gue kesal. Gue tegasin, jangan ganggu dulu. Awalnya diam, eh malah gitu lagi kocak. Ya udah, gue abaikan aja.

Di Akhir perkuliahan saat mau pada pulang, Yasya meminta gue untuk membawakan bekas minumannya, gue tolak sambil mengumpat “Kocak, elo kira gue babu apa co!” Dia nyengir, lalu menjawab “Tolong bawakan dulu.” Yaeh, itulah momen-momen sebelum dia pergi untuk selamanya. Dibalik sikapnya yang buat gue risih, cerewet sampai membuat kuping gue demo ‘udah bang, gue nggak tahan’ ternyata itu adalah akhir yang tak pernah kembali lagi. Agar gue nggak menyesal berlebihan atas kepergiannya.
Sebenarnya kalo gue ceritakan tentangnya, mungkin satu buku nggak bakal cukup, biarlah itu jadi cerita untuk mengingat kebaikannya. Tapi ada dua hal yang ingin gue sampaikan.

1. Berteman tanpa ada rasa itu memang ada. Banyak banget kan beredar influencer-influencer atau story yang menyatakan bahwa tidak ada dua manusia yang berlawanan jenis berteman tanpa ada rasa suka, itu mustahil. Menurut pengalaman gue ada kok, terlepas orang-orang nggak setuju, tapi hipotesis gue seperti ini. Gue nggak begitu dekat dengannya, ya biasa-biasa aja gitu tapi kami selalu satu pemikiran. Contohnya, ketika gue nge-jokes absurd di kelas, orang pertama yang selalu ‘ngeh’ adalah Yasya dan Mirza. Sisanya mikir-mikir dulu, lalu menanggapi, ‘Apaan sih nggak jelas’ Kalo dia nggak setuju dengan kesepakatan teman-teman terhadap sesuatu, pasti ngadu ke gue tuh, mempertanyakan apakah gue setuju juga? Ya, gue selalu jawab nggak setuju kalo kesepakatannya lebih dominan ikut-ikutan.

Sikapnya yang ceplas-ceplos tanpa filter kadang membuat dia terasing, tapi hebatnya dia selalu membalas dengan bodo amat. Gue berpikir, memang ini sikap yang harus dimiliki oleh Perempuan. Berprinsip tanpa disetir oleh lingkungan atau bahkan standar tiktok.

2. Cintanya sangat kaya. Kalo elo tanya siapa teman di jurusan gue (Eh, jurusan Pendidikan Non Formal Angkatan 2023, maksudnya) yang paling setia sama pasangannya? Ya, dia adalah yasya. Cintanya begitu berakar, besar dan tak pernah tumbang. Gue respek dan salut dengan prinsipnya ini. Makannya di obrolan kemarin dia bilang sama gue ‘Orang-orang mungkin berpikir gue itu gila dan kenapa nggak mencari yang baru lagi kalo harus mati-matian bertahan. Tapi tidak, gue nggak mau memulai dari nol, lebih baik merasakan pahitnya sekarang, toh lagi proses juga. Sampai kapan pun selagi masih ad acara, gue akan mempertahankannya.’ Dan benar saja, Dia membawanya sampai mati. Gue menamainya Yasya si Pecinta Sejati, yang gugur jatuh ke pelukan Maha Pemilik Cinta itu sendiri.

Akhir kata, semoga Teman gue ini ditempatkan di tempat yang terbaik di alam sana. Gue berani bertaruh bahwa dia orang yang paling baik dan peduli, meskipun orang-orang di lingkungan sekitarnya membalas dengan sampah. Kontribusinya memberi kebermanfaatan lebih banyak dibalik layar kebanding di permukaan yang hanya koar-koar. Kok gue tahu? Dia banyak cerita sama gue. Mari! Kita perlakukan orang di sekitar kita dengan baik, hargai kehadirannya sebagaimana mestinya tanpa berlebihan, agar ketika Dia pergi tidak diliputi oleh penyesalan yang dalam. Kita hidup sementara, bila Gajah mati meninggalkan gading, kita mati minimal meninggalkan kesan dan pesan yang baik untuk jadi inspirasi bagi orang lain.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement