Diskusi Perdana Bersama DPL
“Ibu nggak minta program kerja kalian yang berat-berat, bahkan bikin repot. Cukup yang sederhana, ada esensinya dan sesuai dengan jurusan teman-teman. Karena mau kapan lagi kita menerapkan ilmu yang sudah dipelajari di Kampus kepada Masyarakat, selain di KKM.” Ucap Bu Ima selaku DPL KKM kami yang senantiasa memberikan nasihat disela-sela diskusi.
“Baik Ibu, akan kami maksimalkan.”
“Jangan menganggap bahwa KKM ini beban, yang akhirnya datangnya kita ke sana istilahnya hanya pindah rebahan aja. Ramah tamah jarang, program hanya sebatas sosialisasi, dan bergantung pada ketua, apa-apa ketua. Kita nggak boleh seperti itu, yuk! Bareng-bareng belajar dewasa, perbanyak aktifitas biar waktu sebulan itu nggak membuat bosan.”
Sepanjang diskusi nasihat darinya tak ada habisnya. Sampai berakhir pada pertanyaan horror, apa hasil surveinya? Apa masalahnya? Bagaimana potensinya? Bagaimana bentuk programnya? Ah, sudahlah.
Siang tadi, untuk pertama kalinya kami bertemu dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Disela-sela waktu sibuknya, seorang Ibu yang sudah berumur 55 tahun tersebut masih terlihat kuat, matanya terlihat berapi-api bila menjelaskan terkait pemberdayaan Masyarakat, dan ambisinya dalam hal belajar patut diacungi jempol, sehingga membuat gue yang sudah dua kali bertemu dengannya bertanya-tanya, apa yang membuat semangat itu nggak padam? Mungkin, karena kecintaannya akan pengabdian.
Anggota kelompok kami totalnya ada 14 orang, tapi yeah Namanya juga setiap orang punya kesibukkan masing-masing, jadi yang bisa hadir hanya ada 8 orang. Sebenarnya ada juga sih sebelumnya yang bisa hadir, tapi tiba-tiba ada dadakan, ya wes nggak jadi. Menyikapi hal ini, gue sebagai ketua sih nggak masalah, apalagi sudah sama-sama dewasa, jadi nggak perlu drama-dramaan nggak jelas sampai diumumin pakai TOA Masjid, WOI! WOI! ATAS NAMA TITIK-TITIK, HADIR NGGAK LOH?! Cukup hargai dan fokus jalani yang ada. Beruntungnya Bu Ima menerima yang ada, dan lanjut ke rapat di antaranya pembahasannya adalah terkait motivasi awal mengikuti KKM.
JADIKAN KKM SEBAGAI AJANG BEREKPRESI
“Yah, program yang tepat kira-kira apa lagi nih?”
“Bayangin, satu bulan kita hidup di Kampung orang, SATU BULAN BOY!”
“Hah! Rapat lagi kita terus dilanjut survei?”
“Segera Bayar Uang Iuran, Ya Teman-Teman?”
“Berkabar yah teman-teman, kalo sudah di Rumah.”
“Segera kerjakan yah, tugasnya teman-teman sesuai divisi.”
Itulah beberapa percakapan yang tidak asing lagi, setiap hari selalu ada komunikasi tersebut bersilewaran di grup BPH, di grup antar divisi, di grup utama bahkan di grup yang ada DPL-nya juga. Iseng-iseng kadang gue ketawa, ini persiapan KKM lama-lama yang kayak mau bikin Negara aja hehe. Yeah soalnya kondisi Negara kan lagi nggak baik-baik aja, maksud gue sekalian aja yuk! Bikin Proker sekalian juga bikin rencana gulingkan rezim wkwk. Pulang-pulang bukan ke Rumah nanti, tapi ke alam kubur hehe. Ya Tuhan, gelap banget pikiran gue dah.
Menurut Bu Ima, jangan jadikan KKM ini sebagai beban, tapi jadikanlah sebagai ajang berekpresi dari apa yang sudah kita pelajari di Kampus. Kalo kita dari jurusan Biologi, apa yang akan lakukan di sana, membuat kompos kah? Membuat tanaman hidroponik kah? Atau membuat si dia nyaman di sana hehe. Maksud gue membuat nyaman lingkungan KKM nya, biar programnya lancar Sentosa. Itu baru dari jurusan Biologi, kalo dari jurusan Teknik, Matematika, Keperawatan, PG Paud, Bimbingan konseling, Kimia, Pendidikan Non Formal, nggak kebayang se-menyala program kerjanya.
Tapi memang yang menjadi masalahnya adalah, kita kadang kebingungan saat ditanya, terus kalo dari jurusan elo nanti apa yah programnya? Ini hal yang wajar sih, makannya dari latar belakang jurusan saja menurut kecamata gue sih nggak cukup untuk menentukan membuat program, kita juga bisa menentukannya dari kapasitas yang kita kuasai atau minati dan ini sesuai dengan hasil survei sebelumnya. Sah-sah saja dilakukan, karena pada akhirnya ketika terjun di Masyarakat kita akan Percaya Diri berbagi Ilmu, bila kitanya mempunyai pengalaman di situ dan menguasai of the box, bukan dihafal apalagi lihat text doang. Udah kayak khutbah aja hehe.
LURUSKAN NIAT KKM UNTUK BELAJAR
Belajar itu bebas, mau di mana pun, kapan pun dan saat apa pun. Karena hakikat belajar itu kita mengetahui apa yang belum diketahui tanpa terbatas oleh ruang dan waktu. Dalam hal ini, karena kita mau KKM, Bu Ima mewanti-wanti kami untuk meluruskan niat dulu bahwa tujuan kita itu bukan hanya menyampaikan ilmu yang ada, melainkan juga untuk belajar. Yeah, belajar bagaimana menerima kenyataan di tempatkan di lokasi KKM tersebut, belajar bagaimana mengendalikan ego saat malas mengemban tanggung jawab, belajar untuk ikut survei meskipun banyak kesibukkan, belajar menyusun program kerja yang tepat sasaran dan belajar bagaimana memendam rindu ingin pulang di kala aturan memaksa untuk tidak pulang dulu. Begitu seterusnya.
Semakin kita memaknai bahwa apa yang akan kita lakukan nanti di sana, bahkan sebelum dimulai pelaksanannya juga, bahwa ini adalah proses belajar, gue berani bertaruh bahwa tanpa diingetin tugasnya di Kelompok juga bakalan inisiatif sendiri, bahkan ketika ada konflik juga bakalan cepat selesai, nggak bertahan lama, kenapa demikian? Bukan mengedepankan emosional melainkan profesionalisme. Cukup ngerih sih, ketika gue mendengar cerita-cerita dari teman-teman gue yang sudah KKM gimana toxic-nya, susahnya mengatur anggota dan lain sebagainya. Konflik pasti ada, tapi dengan manajemen konflik yang tepat, pergerakan akan tetap stabil. Dan semua itu dimulai dari kesadaran akan belajar.
Akhir kata, banyak hal yang gue dapat dari diskusi tadi. Tapi hanya dua hal yang menurut gue penting dibahas, karena dua hal inilah pondasi awal mengapa kita harus KKM dan juga dua hal tersebut menjadi motivasi tersendiri, saat kita jenuh atau bosan di lokasi, karena ingin cepat-cepat pulang. Nggak ada KKM yang enak, karena di sinilah sumber konflik atas apa yang kita pelajari di Kampus bahkan yang belum dipelajari sekalipun Bersatu, membentuk pribadi yang kita harapkan sedari awal tujuan mengikuti KKM.
0 Komentar