Bersama teman-teman Kelompok KKM Ponpes
Ketakutan terbesar gue berada di zona perkuliahan hanya satu, miskin ide. Buat gue nilai IPK itu hanya bonus malahan gampang di politisasi, tapi ide nggak bisa begitu, karena harus diolah, di riset, dipertimbangkan dan disimpulkan dengan objektif. Itulah yang menjadi alasan gue kenapa harus memaksakan diri untuk berkunjung ke perpustakaan, meminjam beberapa buku meskipun kadang nggak gue selesaikan satu pun, yeah hanya membaca garis besarnya saja. Itu juga yang menjadi alasan gue kenapa setiap menerima informasi selalu mengkritisi dulu dengan mendalam, meskipun orang-orang menilainya lambat dalam mengambil keputusan. Dampak dari seringnya memaksakan ke tempat-tempat belajar membuat gue sadar satu hal, bahwa ternyata semakin mendapatkan peengetahuan yang baru atau menemukan judul buku yang baru, gue harus rajin-rajin lagi belajar mandiri.
Dalam kamus bahasa gue, antara mentok ide dengan miskin ide itu dua hal yang berbeda, meskipun memang keduanya memiliki kemiripan dari kata ‘ide’ nya. Mentok ide itu adalah ketika kita mencoba mengembangkan suatu pemikiran atau gagasan, semakin mempertanyakan gagasan itu secara mendalam, untuk sementara kita berada pada satu kesimpulan ‘Gimana lagi yah?’ atau ‘Harusnya gimana sih ini, bingung banget gue dah’ Nah, itu artinya kita sudah masuk ke zona mentok itu. Ini hal yang normal, ilmuan-ilmuan juga sering mengalaminya, salah satunya Thomas Edison yang menemukan lampu setelah berkali-kali mencobanya.
Sedangkan miskin ide adalah ketika kita mendapatkan suatu gagasan atau informasi, ya udah berhenti di situ, nggak mempertanyakan apalagi mengkritisnya, yeah singkatnya pasif gitu. Hal ini terjadi karena malas berpikir atau bahkan bingung bagaimana mikirnya. Kebiasaan inilah yang sedang gue hindari, dan malah takut banget gue. Soalnya bahaya banget kalo jadi kebiasaan, orang mah mikirnya udah ke mana, ini mah masih di tempat. Mengapa gue bisa berpikiran seperti itu? Karena begini, di Era Digital kita dituntut untuk terus bertransformasi agar bisa dengan cepat beradaptasi, syukur-syukur bisa kontribusi juga dalam membantu Masyarakat beradaptasi.
Ketika melihat karya orang, pernah nggak sih kita kayak aneh gitu, lalu spontan mengatakan “Kok bisa yah, dia mikirnya sejauh itu” atau “Kok bisa yah, gue nggak kepikiran sebelumnya” Sama gue juga sering mengalami hal ini ketika melihat karya orang-orang yang menang lomba tulisan, baik proposal bisnis plan, artikel ilmiah, esai dan sejenisnya. Kok bisa gitu, sedangkan gue kapan? Gue nggak melihat juara yang mereka dapatkan, tapi yang gue lihat adalah kenapa mereka bisa berpikir sejauh itu? Apa yang membuat mereka bisa kepikiran seperti itu? Upaya apa yang gue lakukan agar memiliki keterampilan tersebut?
Pertanyaan seperti inilah yang akhirnya membawa gue pada satu situasi, bahwa semua bisa karena dilatih. Abang gue sering berkata bahwa Gol A Goang selaku duta baca Indonesia pernah mengatakan di Pelatihan Menulis, “Kita ini nggak miskin ide, Cuman bingung saja mengelolanya.” Apa yang disampaikan tersebut, kalo kita pikir-pikir iya juga sih ada benarnya, kalau secara literasi pemikiran kita matang. Nah, kalo nggak mateng mah sama aja ujung-ujungnya tetap mentok tuh ide. Dari mentok ide inilah, otak kita diperas dan hasil dari apa yang sudah kita pelajari mulai dari membaca, mendengar, menonton, memperhatikan serta pengalaman yang sudah dilalui menjadi bahan untuk ditindaklanjuti sehingga lahirnya beberapa rekomendasi.
Pada akhirnya, karena posisi gue sekarang lagi mentok ide, sepertinya tulisan ini sampai di sini dulu. Dam standing position gue tetap pada, gue lebih takut miskin ide kebanding mentok ide. Karena bila miskin ide pikira kita disibukkan oleh hal-hal yang tidak penting, sebaliknya bila kita mentok ide akan ada banyak hal yang merangsang otak kita untuk kembali mencari dan mencari informasi yang sedang dikaji tersebut.
0 Komentar