Bersama Qonita, Kalika, Astri dan Fitri
“Mau ke mana a?” Tanya Mamang Ojek yang terus membuntuti gue untuk menumpanginya.
“Saya mau ke Ponpes Al Muawanah Pak.”
“Ouh yang dekat Sultan Yusuf itu, terus jalan kaki ini?” Tanyanya dengan heran.
“Iya Pak, dekat kok ya.”
Tidak ada jawaban, Mamang Ojek hanya termenung melihat gue pamit untuk cepat-cepat pergi. Cuaca Serang yang panas mulai membuat tubuh gue berkeringat, hitungan jarak gue melenceng, ternyata perjalanan ke Pondok bukan 7 KM, tapi hanya 3,5 KM. Dan kocaknya gue gagal menjalaninya, hanya karena ada jemputan yang tiba-tiba.
Kawasan Banten lama. Apa yang terbenak dalam pikiran kita? Tempat bersejarah, pusat pemerintahan zaman dahulu, tempat Wisata dan yang paling sadis ada yang memandang tempat kumuh. Berdasarkan hasil pengumaman dari pihak Kampus, kami ditempati KKM di Ponpes Almuawanah Kecamatan Kasemen. Di satu sisi KKM ini menjadi peluang bagi kami untuk mengembangkan ilmu yang sudah dipelajari di Kampus, tapi di satu sisi menjadi tantangan juga. Mengingat satu bulan hidup di Kampung orang nggak semudah membalikkan telapak tangan, kita harus bisa beradaptasi dengan adat istiadat setempat. Dan salah satu tantangan yang paling menguras pikiran kami sekarang adalah, posko.
KKM di Pondok, idealnya sih kita tinggal di Pondok jadi nggak usah ribet-ribet lagi mencari posko. Tapi demi kenyamanan bersama, kami sepakat untuk yang perempuan tidur di Posko. Sedangkan yang Cowok terserah mau tidur di mana saja, mau di pondok kek, pohon kek, Mushola kek, Majelis kek, senyamannya saja. Yang penting jangan tidur pas rapat saja, apa lagi mic nya sengaja di matiin (Ehh). Alasan utama kami untuk mencari posko adalah agar tidak mengganggu kegiatan Pondok. Tahu sendiri drama pas evaluasi nanti stragis apa, belum lagi kalo pas rapat, orang-orang yang di pondok mah pada ngaji, lah ini sibuk menyiapkan prokeran. Wah, udah kebayanglah gimana chaos-nya, makannya kita berusaha untuk mengantisipasinya.
Kemarin, untuk yang kedua kalinya Kami survei ke lokasi untuk mencari posko, setelah sebelumnya posko yang direkomendasikan oleh Pak Kiyai tidak bisa kami tempati selama KKM. Tebak, gimana coba respon BPH pas dengar info tersebut? Alhamdulillah sejauh ini sih masih terkendali, apa pun yang terjadi ya wes tetap kita jalani. Tadinya yang ma uke lokasi hanya BPH doang, karena teman-teman yang lain terkendala waktu, kesibukkan dan kendaraan. Ternyata, ada dua orang yang bisa ikut dari divisi yang berbeda. Mereka ke lokasi naik motor, sedangkan gue karena ada kendala di kendaraan, ya udah tanpa berpikir Panjang opsi gue lebih memilih naik Kereta kebanding naik Maxim.
Gue sengaja mengambil tiket Kereta di jam 11, jangan tanya pertimbangannya apa, karena keputusan gue ini hasilnya ternyata tepat setelah dijalani. Ternyata dekat ya jarak dari Stasiun Serang ke Stasiun Karangantu, cuman duduk 10 menit doang gue di Kereta. Ketika turun di Kereta, gue langsung gerak cepat membuka Goagle Maps, untuk mengetahui ke arah mana gue berjalan, sekaligus biar nggak dikelabui sama Supir-supir dan Mamang-mamang ojek yang sudah berkali-kali meminta para penumpang yang baru turun untuk menggunakan jasanya.
PERJALANAN KE PONPES ALMUAWANAH, JALAN KAKI SEKITAR 47 MENIT!
Gilaa! Cukup terkejut sih gue ketika melihat informasi di Goagle Maps. Kok bisa sekitar 47 menit dibanding menggunakan motor yang hanya membutuhkan waktu 7 Menit. Kesalahan gue adalah hanya fokus ke waktu tersebut, bukan ke berapa Kilo Meter jaraknya. Kesalahan kecil ini berpengaruh banget ternyata pada daya tahan tubuh untuk mengelola energi kapan harus pelan dan kapan harus cepat melangkah, sehingga nggak gampang Lelah. Ada yang membuat gue kesal, ketika gue membuka HP untuk melihat di goagle maps, apakah jalan yang dilalui ini benar atau nggak. Eh, kocak hp gue kalo terkena sinar Matahari gelap banget dah, sampai gue kepikiran lepas aja gitu ini Tempered Glass (TG) anti privasi ini. Tapi nggak gue lakukan, dengan berbekal insting dan feeling gue pun melanjutkan perjalanan.
Cuaca panas Serang pukul 11 Siang, tentu elo tahu sendiri lah nggak main-main banget. Beruntungnya dari awal sebelum keberangkatan sudah mengantisipasinya. Pertama, gue sengaja nggak membawa almet, elo bayangin dah berjalan di tengah teriknya matahari pakai almet, waah gila banget gerah itu pastinya. Kedua, gue sengaja memakai sepatu lari. Bukan untuk gaya-gayaan sih, tapi takutnya rute dari Stasiun Karangantu ke Ponpes lumayan jauh, jadi kalo menggunakan sepatu lari, kaki nggak jadi berat-berat banget melangkah. Dan yang ketiga, pagi hari gue sudah jalan-jalan santai biar tubuh tetap bugar dan kaki nggak kaget ketika gue paksa berjalan.
Dikejauhan gue melihat ada dua orang yang berhenti, mereka memakai almet Kampus. Insting gue sih mengatakan bahwa itu teman kelompok gue, baguslah berarti gue nggak kesasar. Eh, ternyata benar mereka cuy! Dan elo tahu apa yang membuat gue nggak suka? Mereka bilang, kenapa nggak minta jemput? Jangan jalan kaki, perjalanan masih jauh, gantian aja kita! Karena dari awal gue sudah mengantisipasi pasti ada perkataan seperti ini, ya gue hanya menjawab senyum. Lalu meminta mereka untuk berjalan duluan, biarkan gue jalan kaki saja. Yang penting 2 teman BPH gue nggak khawatir yang ditunggunya sudah ada yang datang, kecuali gue. Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan gue, setelah gue memintanya dengan ‘sangat’ untuk pergi duluan.
DI PONDOK TIDAK ADA SIAPA-SIAPA
“Karena kalian sudah pada Shalat, biar energi tetap prima, pergi dulu yah, cari makan. Nanti kondisinya gue sampaikan setelah kalian makan.” Ucap gue pada mereka, biar mengisi perutnya dulu, soalnya kalo perut kosong diskusi nggak bakalan konek ya.
“Lah, ngusir nih ceritanya!” Jawab Qonita si Sekertaris yang sering gue becandain.
“Iyah, biar kalian nggak kaget ketika mendengar kondisi sebenarnya.”
“Kok seperti ada yang janggal yah.” Kata Fitri yang di-iyakan oleh Astri dan Kalika.
Gue hanya menjawab, nanti juga kalian tahu dah. Mereka pun akhirnya nurut dan pergi membeli makan siang.
Sebelumnya, ketika kami datang ke Pondok kondisinya memang sepi banget, nggak ada siapa-siapa. Bahkan sampai gue keliling mengetuk pintu nggak ada satu pun yang keluar, iyah soalnya yang gue ketuk pintu Mushola hehe. Kenapa bisa sepi begitu? Iyah, ini adalah misteri yang belum bisa kami pecahkan. Gue meminta mereka untuk tenang, bersabar untuk menunggu. Biar nggak bosan banget, kami pun ngobrol random sekitar kampus, proker dan yeah random aja. Sampai akhirnya ada salah satu Santri yang masuk ke Ponpes, ya udah gue pun mendatanginya untuk menanyakan ke mana A Bahtiar (salah satu pihak pondok yang jadi narahubung). Plot twist-nya ternyata sepi karena lagi pada gotong royong co, jadi nggak ada satu pun santri yang ada di Pondok. Karena waktunya mepet dan A Bahtiar juga perlu mandi dulu katanya, ya sudah kami pun Shalat Dzuhur dulu.
Menunggu Imam Shalat
Adzan sudah berkumandang, seperti biasa shalat berjamaah tidak akan dimulai sebelum yang lain pada kumpul. Sudah ada dua orang yang duduk menunggu santri lain datang, satu orang santri dan satu orang lain lagi Bapak-Bapak modelannya sih kayak Ustadz, gue duduk terpisah di tempat lain sambilscrool sosmed haha. Gue kira menunggunya bakalan sebentar gitu yah, ternyata setengah jam pun lewat cuy! Gue mau nanya, ini lagi nunggu siapa yah? Takut nggak sopan, karena gue kan orang luar jadi harus ikuti aturan Pondok. Dua orang ini duduk aja santai, seolah-olah menunggu lama itu bukan masalah besar, di sinilah feeling gue mengatakan bahwa mereka menunggu kedatangan Pak Kiyai untuk menjadi Imam Shalat. Gue sih nggak mempermasalahkan budaya tersebut, bagus kok menghargai Pak Kiyai, tapi kalo lama tak kunjung saja, masa kita tetap berdiam diri?
Di Luar Masjid, teman-teman kelompok gue yang cewek sudah selesai Shalat Dzuhur, mereka bertanya kok elo belum selesai sih? Lah, kata gue belum dimulai shalatnya. Dan yeah, mereka pun terkejut!
Menunggu Lima Menit saya diam! Ketika penasaran dan menghargai untuk tidak bertanya dulu, saya lebih memilih diam. Menunggu 30 menit untuk shalat Berjamaah tanpa kepastian, saya juga diam! Tetapi kali ini setela lama diam, saya katakan akan saya LAWAN! Akan saya LAWAN!
Itulah yang gue pikirkan. Makannya gue langsung bilang, apakah mau dimulai shalat berjamaah sekarang kalo nggak nanti saya Shalat Sendiri? Eh, dua orang ini langsung gerak cepat untuk memulai shalat berjamaah, lah kocak banget yah, tapi itulah yang terjadi.
TITIK TERANG
Setelah shalat Dzuhur gue pun ngobrol dengan A Bahtiar dan Mang Acip anak dari Pak Kiyai. Gue mengutarakan hasil temuan kami dan program kerja apa saja yang akan dikerjakan nanti. Yang membuat kami bingung adalah perihal Posko, di mana kami belum menemukannya. Untuk obrolan posko sebenarnya gue selipkan di akhir sih, karena Namanya juga baru pembukaan yah, masa langsung ke intinya. Di sinilah mulai mendapatkan titik terang, di mana Mang Acip meerekomendasikan dua tempat untuk menjadi Posko nanti, dengan syarat harus se-izin Pak Kiyai. Ada sedikit kelegaan yang gue rasakan ketika mendengar dua rekomendasi tempat itu, tinggal nambah opsi lagi mencari posko di tempat lain, takutnya ini mah dua posko yang direkomendasikan tidak bisa dipinjam, kan kalo sudah diantipasi dari awal mah enak.
ARAHAN ANAK PAK RW KELILING MENCARI POSKO
Pulang dari Pondok, kami pun berkunjung ke RT dan RW se-tempat. Tujuannya hanya satu sih sebenarnya, meminta rekomendasi Posko, selebihnya mah basa-basi aja wkwk. Sayangnya kita nggak bisa ketemy Bu RT karena beliau lagi ada acara di luar, cuman sempat berbincang melalui Telephone, kataanya sih Bu RT ini punya Rumah, boleh kami tempati untuk Posko. Ya, senang dong kita dapat rekomendasi tempat lagi. Setelah itu, tadinya sih kita mau Pulang, tapi Fitri bilang katanya kenapa kita nggak bertemu ke Pak RW sekalian, kebetulan dia lihat Rumahnya tadi. Ya wes akhirnya kami pun mendatanginya, dengan tujuan yang sama.
Kita hanya bertemu dengan anak Pak RW, di sinilah awal kami survei dadakan 2 lokasi Posko yang direkomendasikan. Apakah ada yang cocok? Belum ada, sampai kita berpikiran kocak, kayaknya kita kuwalat dah sama Pak Kiyai, sudah disediakan Posko dekat Pondok, masa malah lalu Lalang mencari Posko lagi, hasilnya bukan bagus, ini mah Masya Allah banget. Tapi di sinilah energi, fisik, pikiran dan emosional kami terkuras, lumayan capek tapi ada ada tawa yang membuat kami tetap waras, bahwa ini bukan akhir perjalanan, tapi awal perjalanan. Tugas kami hanyalah berusaha, hasilnya gimana nanti saja.
PULANG
Kami berpisah untuk Pulang setelah Shalat Maghrib. Tiket Kereta gue di jam Sore sudah hangus, beruntungnya gue punya aplikasinya jadi tinggal beli lagi dah. Gue meminta mereka untuk Pulang duluan, jangan pikiran gue, eh mereka bilang biar gue diantar dulu sampai ke Stasiun baru mereka Pulang. Mau nolak, gue nggak bisa nantinya dramanya makin-makin. Sampai mereka kesal sama sikap gue, ‘Jangan gengsian sih, cobalah kayak teman-teman cowok di jurusan gue yang pada nggak punya harga diri’ dan yang Kalika menimpali “Elo dari Pagi jalan kaki, Ayolah! Cepat naik” Yeah, gue pun ngikut.
Dari perjalanan yang berlika-liku ini banyak hal yang gue dapat, dan bahkan ada beberapa hal yang tak bisa gue sampaikan dengan detail. Karena keterbatasan waktu atau tidak etis disampaikan. Yang terpenting dari perjalanan ini gue menyimpulkan satu hal, selama kita terus mencari akan selalu ada jalan menanti. Kalo pun mentok, ada jalan untuk kembali dan berbelok ke jalan baru lagi, begitulah kehidupan.
0 Komentar