Foto bersama Qonita dan Kalika
“Mau sampai kapan terus mencari buku Mahabarata-nya?” Pertanyaan dari Vivi yang selalu gue ingat, ketika setiap pekan sibuk mencari bukunya dari berbagai rak.
“Sampai Mumi Fir’aun hidup, baru gue anggap selesai.”
“Gila lo yah! Lagian banyak jalan pintas, bahkan ada beberapa buku lain yang menumpuk, tapi gue heran lo masih setia pada buku yang tak ada kabar itu.”
“Yeah gue memang gila, seperti halnya yang dilakukan oleh Ekalaya. Tetap setia, fokus ke proses dan menghiraukan keterbatasan. Bukan seperti Arjuna yang elo agung-agungkan, merasa kesatria tapi menusuk dari belakang!”
“No! seburuk apa pun Arjuna, di mata gue tetap dia adalah kesatria sejati! Karena kelicikannya berhasil mengalahkan kurawa.”
Dan kami pun tenggalam dalam perdebatan kecil.
Kesatria adalah seseorang yang pemberani membela di jalan kebenaran, untuk terciptanya kondisi masyarakat yang aman, nyaman dan terkendali. Mendengar kata ‘Arjuna’ yang terbesit dalam pikiran kita, adalah sesosok kesatria sejati. Di mana, berkat kepiawaiannya memanah dapat mengalahkan para Kurawa yang bejatnya minta ampun. Gue juga awalnya berpandangan bahwa Arjuna ini kesatria banget. Sampai akhirnya setelah membaca buku Pulang Karya Leila S Hudori, ada sekilas membahas keegoisan Arjuna hanya demi nama besar sang Pemanah hebat nomor satu, rela menggunakan cara licik, membiarkan Guru nya memotong Ibu Jari tangan Ekalaya.
Sebelumnya gue sudah membaca buku Mahabarata sampai selesai, dan baru ‘ngeh’ menemukan pembahasan terkait gesekan antara Arjuna sama Ekalaya di Buku Pulang itu. Terhitung gue sudah empat tahun mencari-cari buku Mahabarata ini di Perpustakaan Daerah untuk dipinjam kembali, hasilnya tetap nihil. Entahlah ke mana itu buku, padahal dulu seingat gue ada dua dah, kenapa dua-duanya jadi hilang yah. Tujuan gue untuk meminjamnya sih ya untuk dibaca lagi, biar lebih dalam mengetahui ceritanya. Sehingga berpikir gue tuh berdasarkan data gitu, bukan hanya mengandalkan ‘seingat gue sih’.
Potret BPH KKM
Salah satu misteri yang ingin gue pecahkan adalah terkait pemotongan Ibu jari Ekalaya. Siapa yang salah, apakah gurunya Arjuna atau Arjuna sendiri? Kan, ini perlu gue riset lagi dari bukunya untuk mencari kebenaran yang valid, bukan dari beberapa sumber artikel saja. Tapi memang standing position gue sekarang adalah, Arjuna itu pengecut, kalah saing bukannya tanding secara gantle, ini hanya bersikap menggerutu. Sehingga Guru nya merasa tak enak hati, karena telah berjanji kepadanya akan menjadikan satu-satunya orang yang piawai memanah, eh plot twist nya Ekalaya lebih jago, ya sudah dimulailah cara licik tersebut.
EKALAYA
Dia adalah orang yang ingin berguru kepada Resi Drona, agar piawai Memanah. Tapi ditolak oleh Drona dengan dua alasan, pertama karena Ekalaya ini bukan dari kerajaan tempat Arjuna (Pandawa dan Kurawa) Kedua, Resi Drona sudah memiliki janji kepada Arjuna untuk melatihnya sampai menjadi pemanah nomor satu, taka da bandingnya. Sehingga kalau Resi ini menerima Ekalaya sebagai Muridnya, ditakutkan menjadi pesaing Arjuna.
KETEGUHAN EKALAYA
Ketika ditolak menjadi Muridnya oleh Resi Drona, apakah Ekalaya ciut? Nggak Kisana. Dia nggak menyerah, dia menerimanya. Untuk menghibur dirinya karena tekadnya sudah bulat untuk belajar, Ekalaya berpandangan bahwa dia memang sudah gagal belajar memanah dari Resi Drona, tapi bukan berarti harus berhenti berlatih. Dengan segala keterbatasan tersebut, dia pergi membuat patung yang mirip Resi Drona, seolah-olah dia berlatih memanah mandiri didampingi oleh Guru yang menolaknya itu. Menurut gue gila sih ini Ekalaya, mentalnya teguh banget dan harus kita tiru biar tetap semangat belajar meskipun ada keterbatasan.
KEPATUHAN YANG TIADA TARA
Hasil latihan, tidak pernah bohong. Pada suatu waktu, Arjuna dan para Prajuritnya berkelana ke Hutan, dikejauhan ada mangsa yang cantik untuk dibidik. Arjuna bersiap untuk membidik, tapi tiba-tiba ada sebusur panah yang sudah mendahuluinya. Sontak saja kejadian itu membuat gempar, pasalnya dari jarak jauh tidak ada Pemanah yang sejitu itu selain Arjuna atau Gurunya. Ternyata setelah ditelusuri, busur Panah itu milik Ekalaya. Di sinilah awal berjumpa Arjuna dan Ekalaya. Karena melihat ada Resi Drona di gerombolan Arjuna, Ekalaya menghampirinya sambil bersujud-sujud layaknya Murid kepada Guru. Apa yang Ekalaya dapatkan coba? Kemarahan dari Resi Drona, tapi mendapatkan balasannya seperti itu apakah dia cengeng? Nggak kisana, dia tetap patuh menerimanya. Malahan dia berterima kasih karena berkat Patung yang mirip Resi Drona, membantunya seperti menjadi muridnya sampai piawai memanah.
Arjuna yang berada di posisi itu harga dirinya sebagai pemanah nomor satu, merasa terkikis egonya. Ternyata dia nggak nomor satu, karena masih ada orang yang lebih hebat darinya. Di bagian ini nih yang membuat gue bertanya gitu, kenapa nggak sparing aja yah mereka, maksudnya kalau Arjuna kalah berarti dia harus berlatih lagi, sedangkan kalo Ekalaya kalah dia juga bisa berlatih lagi dan nggak ada lagi tuh gesekan siapa yang nomor satu Pemanah handal, karena hasil akhir sparing yang menentukan.
MENDAPATKAN PENGHIANATAN
Alih-alih mengajak sparing, Arjuna dalam beberapa hari banyak diam, malahan nggak bergairah lagi memanah. Perubahan inilah yang ditangkap oleh Gurunya akibat dari pertemuan dengan Ekalaya. Maka jalan satu-satunya untuk menjadikan Arjuna sebagai Pemanah nomor satu adalah menyingkirkan Ekalaya. Ini licik banget dah, Gurunya datang kemudian meminta Ekalaya memotong Jempolnya, yang padahal itu adalah kekuatan para Pemanah, dan berhasillah rencana itu. Ekalaya dengan kepolosannya sebagai bentuk Pengabdian kepada Guru, memotong jempolnya.
PELAJARAN YANG DIDAPAT DARI PERSEKUTUAN ARJUNA DAN EKALAYA
Gue sepakat sama Vivi bahwa cara licik yang digunakan Arjuna ingin menyingkirkan Ekalaya sebagai bentuk pemikiran Visioner dari Arjuna, selain untuk mengamankan tiket nama besarnya. Di mana dengan tersingkirnya Ekalaya, tidak berpotensi bergabung dengan pihak Kurawa ketika perang. Yang akhirnya, dari segi memanah, Pandawa menjadi unggul. Bayangkan kalo Ekalaya masih hidup dan bergabung dengan Kurawa, wah sama-sama alot tuh perang di segi memanah, saling balas strategi. Meskipun menurut gue pribadi Ekalaya juga kalo nggak disingkirkan mah bisa saja bergabung dengan Pandawa dengan catatan ya menggunakan jalur pengabdian yang dilakukan oleh Resi Drona. Dari Perseteruan tersebut, gue mendapatkan tiga pelajaran diantaranya:
1. Kita Ekalaya, bukan Arjuna
Menjadi Arjuna itu tinggal di Istana itu enak, yeah meskipun Ekalaya juga riwayatnya dari kerajaan lain juga. Tapi dalam hal ini, Arjuna mempunyai fasilitas yang lengkap, Guru yang mendukung, lingkungan yang mendukung dan nama yang masyur, apalagi masih keponakan Bima, siapa yang berani menghinanya selain para Kurawa. Jadi, cepat gitu perkembangannya. Sedangkan Ekalaya, hanya sendiri di hutan, ditolak berapa kali menjadi murid, mengandalkan diri dan tetap berjuang dengan segala keterbatasan, keren banget kan. Gue menganggap diri gue sebagai Ekalaya, karena memang ada beberapa keterbatasan yang gue dapaptkan dalam proses belajar, tapi ya udah gitu mau tak mau gue tetap menjalaninya, karena kita bukan Arjuna yang semuanya sudah siap dan serba ada.
2. Keteguhan itu mahal harganya
Ditolak berkali-kali, hanya mengandalkan patung guru yang dia impi-impikan, membuat keteguhannya untuk belajar memanah tidak surut. Ekalaya nggak fokus kepada masalahnya, keterbatasannya, penolakannya tapi dia fokus kepada solusinya. Apa yang dia bisa, dia lakukan. Hasilnya nggak bohong, setara dengan apa yang didapatkan oleh Arjuna. Di sini gue memaknai bahwa keteguhan itu mahal, kita tetap berproses pada target atau rencana yang sudah dibuat. Tanpa adanya tepukan tangan, support yang tepat, fasilitas yang mamadai dan kemudahan selama berlatih, tetap konsisten itu keren banget.
3. Patuh kepada Manusia Sekedarnya Saja
Dulu, guru itu memang menjadi pusat pengetahuan. Kalo sekarang dengan berkembang digital, ilmu dapat dengan mudah didapatkan. Bayangkan kalo dulu sudah ada gadget, Ekalaya nggak perlu memotong Jempolnya sebagai bentuk pengabdian kepada gurunya, karena ada AI yang menyaingi posisi Gurunya. Dari hal ini gue berpandangan bahwa, memang bagus kita patuh kepada Guru atau manusia yang kita anggak layak, tapi sekedarnya saja. Karena kalo kata Henry Manamping, sebaik-baiknya manusia, nanti juga berpotensi mengecewakan.
Akhir kata, jika kita tidak lahir di lingkungan seperti Arjuna, kita bisa tumbuh menjadi seperti Ekalaya. Dengan segala keterbatasan dia tetap fokus pada apa yang bisa dilakukan, bukan menyalahkan keadaan. Karena keadaan yang kita hadapi sekarang, sampai Mumi Firaun hidup juga nggak akan berubah, kalo bukan kita yang mengubahnya. Dengan konsisten dan daya juang yang tinggi.
0 Komentar