Menggugat Esensi Peringatan Hari Santri Tahun 2026

Sumber foto dokumen pribadi
“MENJUNJUNG NILAI-NILAI KEMANUSIAAN, MENGHORMATII HARKAT DAN MARTABAT SESAMA MANUSIA!” Bunyi Ikrar Santri di poin 4 mulai bergemuruh diikuti oleh setiap peserta upacara. 

Dari kejauhan, gue hanya tersenyum getir mendengar sepenggalan kalimat ‘Menjunjung nilai-nilai kemanusiaan’ ini, di mana letak menjunjung nilai kemanusiaannya kalo perihal tempatnya aja nggak adil, rakyat kepanasan sedangkan para pejabat dan tamu undangan berbaris di tempat yang beratap. 

Kalo alasannya untuk menghormati kedudukan sebagai pejabat, apa dasarnya? Karena di Undang-Undang nomor 9 Tahun 2010 Tentang Keprotokolan tidak ada satu pun pasal yang membahas terkait perlakuan khusus tentang perlakuan kelas social. Kalo pun ada, itu pasti pada akhirnya hanya diada-adakan saja.

Dan perlahan, persoalan ini mulai mengganggu pikiran gue seharian.

Kemarin, berdasarkan surat edaran dari Menteri Agama nomor 6 Tahun 2026 setiap elemen baik institusi pemerintah, organisasi maupun Masyarakat diberikan arahan untuk melaksanakan upacara memeriahkan hari Santri. Berbagai Kota atau kabupaten melaksanakannya, terutama Kabupaten Pandeglang. Bertempat di Alun-Alun, membuat rombongan yang tumpah ruah membuat upacara tersebut terlihat meriah. Yeah, meriah oleh kepanasan, hilir-mudik orang-orang gabut, barisan-barisan yang terpecah-pecah, dan lain-lain. 

Pelaksanaan Upacara memperingati hari santri, berdasarkan informasi yang gue dapatkan di goagle sih sering melaksanakan setiap tahunnya, hal ini dilakukan untuk membudayakan nilai-nilai Pandeglang sebagai Kawasan para santri.

Memperhatikan susunan Upacara dari awal sampai selesai, membuat gue bertanya-tanya pada diri sendiri, terlaksananya kegiatan ini, apa sih esensinya? Cuman formalitas dan membanggakan nama Pondok Pesantren yang terpilih menjadi petugas upacara. 

Maksud gue tuh isinya hanya sekedar upacara, panas-panasan ngapain. Mana esensinya? Okelah orang yang pro pasti tidak suka dengan pertanyaan konyol ini, tapi mari kita buat perbandingan. Lebih baik hanya upacara yang formalitas kayak begitu lalu keliling jalan membuat jalanan menjadi macet atau upacara sebentar, lalu dilanjut dengan dua aktivitas. Pertama melakukan Gerakan keliling mengambil sampah yang berserakan, lalu sampah dikumpulkan dan di tutup dengan sosialisasi bagaimana mengelola sampah  di lingkungan sendiri dari Dinas terkait. 

Kedua, para santri dari berbagai Pondok dan masyarakat yang bersedia ikut dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian setiap kelompok menyebar untuk memperbaiki jalan-jalan yang bolong atau tidak layak digunakan. Menurut gue keduanya lebih kongkrit esensinya, dari pada hanya panas-panasan doang. Meskipun memang dalam proses penerapannya membutuhkan persiapan yang matang. 

Pertanyaan selanjutnya, kenapa tiba-tiba pikiran gue jadi kayak proletar terhadap masalah yang kecil ini? 

1. Peringatan Hari Santri Harus Dijadikan Ruang Aktualisasi Diri

Berangkat dari keresahan pribadi, gue melihat dalam perspektif Patologi Sosial pandangan Masyarakat terhadap Santri mengalami pergeseran nilai, sering disepelekan dan dianggap tidak mempunyai masa depan yang jelas. Untuk itu, peringatan hari Santri seharusnya dijadikan sebagai momen beraktualisasi mereka bergerilya membuat Gerakan-gerakan di Masyarakat, yang tentunya tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Bentuk kongkritnya misalnya, di satu Kecamatan ada 15 Pondok Pesantren, baik modern maupun salafi. Dari 15 Pondok itu kalau jumlahnya nggak membludak dikumpulkan semua di lapangan, dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberikan arahan untuk turun ke Masyarakat masing-masing untuk bergotong royong. Baik itu memperbaiki jalan, saluran air atau bahkan nanam sawi…. (eh). 

2. Ajang Kolaborasi Lintas Pondok

Untuk Kampus, menuju semester akhir Mahasiswa melakukan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kenapa konsep ini tidak diterapkan juga kepada para Santri, khusus untuk memperingati hari Santri. Contohnya, dari 15 Pondok tadi mendelegasikan 10 orang terbaiknya untuk melakukan pengabdian ke lokasi yang sudah ditentukan oleh Panitia selama 7 hari. Lah, di setiap Kampung kan sudah ada Ustadz nya masing-masing, jadi nggak bisa kelompok tersebut membuat pengajian lagi? Di sinilah pentingnya arahan panitia, mereka dibimbing bagaimana memberdayakan masyarakat, mengelola lingkungan setempat dan mendapatkan pelatihan keterampilan bertahan hidup setelah keluar dari Pondok. 

3. Kegiatan satu titik

Okelah kalo konsep pengabdian ke Masyarakat terlalu ribet dan nggak mungkin dilaksanakan. Maka ya kumpulkan dalam satu titik saja, setiap delegasi jadi panitia untuk membuat kegiatan, baik itu Fun Run bersama Akang Santri misalnya, Liga Santri, dan Penampilan karya masing-masing Pondok. Atau kalo mau melibatkan Masyarakat, gampang buat aja flayer berbagi barang yang sudah tidak digunakan (masih layak) di Rumah untuk para Santri. Jadi barang itu dikumpulkan di satu tempat, pas proses pengambilan ditonton oleh masyarakat, untuk santri diberikan batas secara bergantian perorang mengambil tiga barang dengan menutup mata. Simpel tapi nilai-nilai kebersamaannya ada. 

Itulah beberapa ide yang berkeliaran di kepala gue, banyak cara sebenarnya untuk mengagkat citra dan menebarkan nilai-nilai keislaman di hari peringatan Santri. Tapi kembali lagi, ini hanya sebatas ide belum tentu tepat digunakan dan ide ini bisa berkembang lagi seiring berjalannya waktu.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement