Foto saat konferensi Wilayah Pii Banten 2022
“Pada akhirnya di Dunia kerja kita nggak butuh idealisme, bisa aja tapi resikonya cukup tinggi. Jadi, kita juga harus pintar-pintar politis.” Ucap Dosen, di beberapa obrolan santai.
“Idealisme itu nggak penting. Gini aja dah, posisi elo sekarang miskin kan? Relasi hanya dikit, proyek nggak punya, pengalaman di lapangan minim, jadi elo jangan so-soan jadi orang yang idealis dah. Merasa benar sendiri.” Ucap senior di Kampus untuk yang terakhir kalinya, setelah berkali-kali gagal membujuk gue untuk mengikuti Dunianya.
Idealis dan Politis, keduanya memang nggak bisa dipisahkan. Karena idealis tanpa politis ibarat HP Iphone tanpa dipasarkan. Dan Politis tanpa idealis itu kayak isu relevansi kurikulum Pendidikan setiap ganti Menteri. Bawa perubahan signifikan kagak, jasanya serasa melebihi guru honorer.
Kita hidup di Dunia dengan bermacam-macam orang. Dan setiap orang memiliki cara hidupnya masing-masing, untuk tetap bernafas. Kebutuhan dan keinginan adalah dua prioritas yang terus kita kejar untuk bisa menjalani hidup dengan tenang, tenteram dan sejahtera. Untuk tetap sejahtera itulah ada yang melalui jalur sesuai hukum yang berlaku dan bahkan ada juga yang melalui jalur menantang hukum yang berlaku, nggak main-main saking keasyikannya di jalur ini, mereka berkoloni mengacak-ngacak aturan-aturan itu. Perilaku seperi ini sudah bukan rahasia umum lagi, karena kita semuanya tahu kenapa mereka melakukan hal tersebut? Agar hidupnya sejahtera!
Semenjak SMA, bergeliat di organisasi eksternal, gue anti menyebutkan diri gue sebagai aktifis. Gue lebih suka menyebutnya, orang yang sedang belajar merasakan menjadi aktifis. Kalo sebutan ‘aktifis’ tuh kayak berat aja gitu. Meskipun kata teman-teman gue dulu alasannya karena kita juga sedang berkontribusi di skala kecil, jadi nggak apa-apa me-labeli diri sebagai aktifis, tapi ya tetap aja gue lebih bangga menjadi insan biasa. Bahaya juga nantinya, kita lebih suka sama label ‘aktifis’ nya, sedangkan gerakannya satu gebrakan doang.
Budaya-budaya setiap organisasi dewasa ini mengalami perubahan. Di era Sembilan puluhan ke bawah, bila membaca dari berbagai kajian literatur, mereka lebih fokus ke bawah, bagaimana dekat dengan masyarakat, berkomunikasi langsung dengan masyarakat, dan hidup bersama masyarakat. Polanya seperti itu. Tetapi sekarang mengalami perbedaan, di mana dekat dengan masyarakat hanya formalitas, karena yang utama dekat dengan pemerintahan, berkomunikasi dengan pemerintahan dan hidup bersama pemerintahan. Apakah perilaku seperti ini salah? Tentu, karena kalo kita melihatnya dalam perspektif pemberdayaan masyarakat, menganggap masyarakat sebagai formalitas tanpa adanya tindak lanjut dari apa yang sudah diberikan kepadanya (berupa; seminar, pelatihan, bantuan dll) ini hanya sebatas iklan atau bahkan hiburan.
Ada banyak ajakan yang membawa gue ke Dunia Politik Praktis, katanya lumayan dapat relasi dan isi kantong juga. Apakah gue mengikutinya? Yeah, meskipun di permukaan doang. Selama gue berada di Dunia itu tuh setiap melakukan aksi merasa resah gitu. Okelah untuk acara yang kami buat memang terbantu, mewah, ramai dan lain sebagainya, tapi kemewahan itu hampa. Gue sering mempertanyakan apa yang gue lakukan ini kenapa arahnya nggak berkembang, siklusnya tuh begitu-begitu aja. Lihat masalah social -> Buat konsep acara -> Audiensi dengan pihak terkait -> Pelaksanaan kegiatan. Udah gitu doang, nggak ada tuh tindaklanjut apalagi evaluasi penerapannya seperti apa di lapangan.
“Tangan kiri, fokus melakukan simbol perlawanan. Tangan kanan, fokus transaksi dengan yang kita lawan.” Ucap teman gue di sela-sela diskusi kinerja salah satu ormawa Kampus.
Kita memang nggak perlu terkejut, ketika melihat pas jadi mahasiswa dia semangat banget melakukan perlawanan mengatasnamakan rakyat, tapi setelah lulus berjabat tangan dengan yang dia lawan itu. Itu nggak aneh, cukup dimengerti saja. Toh, pada akhirnya gue yang idealis, bisa jadi nanti jadi politis praktis juga, bisa jadi loh! Kita nggak bisa memprediksi itu dan kalo pun itu terjadi, ya udah gitu. Makannya sebelum itu terjadi prinsip gue tetap teguh, memegang idealis yang menurut gue benar dulu, lebih nyaman aja gitu meskipun yah ada resikonya juga.
MENIKMATI USIA MUDA
Gue berpandangan bahwa selagi muda, yang jangan gampang terdistraksi oleh kepentingan-kepentingan semu, meskipun memang menguntungkan banget. Karena kebiasaan ini nantinya membuat pola pikir instan, hanya perlu bukti kita tindaklanjuti dan diakhiri transaksi. Nggak perlu kerja capek-capek, menguras keringat hanya demi bisa makan. Mumpung masih muda, ya pegang idealisme yang kita punya, mahal banget harganya soalnya. Kalo sudah punya keluarga kecil nanti, boro-boro mau idealis, karena yang ada dipikiran kita, gimana cararanya biar keluarga kita di Rumah nggak kelaparan? Ini pasti dialami oleh para aktifis.
Bagi gue bodo amat dianggap miskin relasi, nggak ada aksi, nggak lincah bermain isu. Itu nggak special. Karena gue punya cara sendiri bagaimana beraksi, perlahan tapi pasti.
FOKUS MENGISI KEPALA
“Ada isi, tumbuh koneksi. Ada koneksi, terjalin komunikasi. Dari komunikasi lahir rekomendasi. Kemudian terjalin relasi dan aksi bersama.” Kata Motivator yang gue lupa lagi Namanya.
Kita sering digembor-gemborkan harus mencari relasi sebanyak-banyaknya. Karena dengan mempunyai banyak relasi, hidup kita akan terjamin. Nggak salah sih gue sepakat kok, tapi kalo elo nggak punya isi kepala yang mengimbangi, ya ujung-ujungnya jadi buntut. Bahkan bisa jadi bakalan tergantikan oleh orang yang baru. Dengan punya isi, kita bukan hanya sebatas menjalin relasi untuk satu gebrakan saja, tapi untuk jangka Panjang, bagaimana memberdayakan masyarakat sesuai dengan teori dan penanganan yang tepat.
MEMILAH-MILAH TEMPAT TUMBUH
Tidak semua tempat kita jadi pelabuhan untuk tumbuh. Menjadi idealis kalo dirasa sudah tidak relevan ya tinggalkan, begitu juga dengan menjadi politis praktis. Gue sebenarnya nggak kaku banget kok terhadap politis praktis, karena kenyatannya ini sudah menjamur di kehidupan kita. jangankan pejabatnya, Supir Angkot juga sering melakukannya kalo ada penumpang baru, para dosen-dosen di Kampus juga sering melakukannya kalo kepepet harus membuat jurnal dan lain sebagainya. Gue sedang mencari lingkungan yang benar-benar fokus Memberdayakan Masyarakat, tanpa bergantung berlebihan kepada para pejabat. Seperti Sanggar Anak Alam di Jogja, wah itu keren banget dah. Dari mulai konsep, pelaksanaan, bahkan luarannya persiapan mereka matang banget, dampaknya juga terasa di Masyarakat. Susah sih memang, tapi mari! Kita usahakan perlahan, dimulai dari diri kita sendiri dulu.
Akhir kata, dengan menjamurnya budaya politis praktis di berbagai lini bukan berarti kita nggak boleh idealis. Justru selagi muda dan nggak mepet banget, ya manfaatkan itu. Pemerintah sebenarnya butuh mitra yang berkelanjutan membuat kegiatan, bukan hanya satu gebrakan saja tanpa ada kejelasan hasil ke depannya seperti apa, karena bila kembali kepada konsep pemberdayaan masyarakat prosesnya harus berlanjut sesuai kebutuhan dalam setiap prosesnya. Kita sebagai pemuda harus bisa fleksibel kapan harus idealis dan politis, kalo bisa pastikan setiap melakukan aksi ‘politis’ ada tindaklanjutan luarannya seperti apa, bukan hanya sebatas formalitas.
0 Komentar