Sumber foto dari Goagle
Penulis : Henry ManampiringPenerbit : Kompas Media Nusantara
Cetakan : Ke - 50, 2023
Jumlah Halaman : 290
Menjadilah seperti batu. Ketika berada di bawah, dia tetap menjadi batu. Bahkan ketika di lempar ke atas di tetap menjadi batu. Setiap kondisi tidak mengubah prinsipnya.
(Markus Aurelius)
Pemikiran Stoisme hadir bukan untuk menghindari masalah yang tidak bisa kendalikan, tapi melihat masalah itu secara objektif, kemudian menentukan sikap kita terhadap hal tersebut bagaimana, lepaskan atau tetap bertahan dengan segala konsekuensinya.
Ketika mengalami masalah baik kecil maupun besar, respon kita pasti sering mengedepankan emosional, kenapa ini bisa terjadi sih?! Harusnya nggak begini?! Hidup ini nggak adil sekali?! Semua manusia pasti bersikap seperti itu, jadi hal yang normal saja. Kebiasaan ini bila tidak diubah, membuat hidup kita menjadi semrawut, karena bila di segala lini kita mengedepankan emosional membuat hubungan dengan orang lain sebagai sesama Manusia tidak terjalin harmonis. Padahal, setiap orang juga sedang berjuang dengan masalahnya masing-masing, jadi kalo pun tidak bisa membantu minimalkan kehadiran kita tidak menjadi beban di kehidupannya.
Dalam bukunya Filosofi Teras ini, Henry Manampiring menyampaikan pengalamannya keluar dari zona stres, tekanan kerja dan masalah-masalah hidup lainnya dengan menggunakan cara para filsuf di Yunani kuno sekitar 300 tahun sebelum masehi.
1. Awal Mula Lahirnya Pemikiran Stoa
Cerita dimulai ketika ada seorang Pedagang bernama Zeno yang akan mengantarkan pewarna baju yang harganya jutaan. Perjalanannya menggunakan jalur laut. Tapi tiba-tiba di tengah perjalanan kapalnya mengalami karam, kemudian Zeno menepi ke sebuah Wilayah yang ternyata di Athena pusat para Filsuf. Iseng-iseng Zeno mampir ke toko buku, dan tertarik dengan buku yang membahas tentang Filsafat. Di situlah Zeno belajar tentang Filsafat dari para Filsuf, sampai akhirnyasetelah mumpuni, Zeno mulai mengajar filosofinya sendiri di sebuah teras berpilar (Stoa). Jadi kata ‘Filosofi Teras’ dalam buku ini menurut pandangan Penulisnya untuk mempermudah penyebutan dibanding dengan kata ‘stoisisme’
2. Tujuan Stoa
Ada dua hal yang ingin dicapai oleh Stoisisme. Pertama, hidup bebas dari emosi negative seperti sedih, marah, curiga, cemburu, baper dan lain-lain. Upaya ini dapat dilakukan dengan memfokuskan pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Kedua, hidup untuk membiasakan kebajikan terhadap hal-hal yang terjadi pada diri kita. Ada empat kebajikan, diantarnya: Kebijaksanaan (Kemampuan mengambil keputusan terbaik dalam situasi apa pun), Keadilan (Memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur), Keberanian (courage) yaitu keberanian berbuat yang benar dam berpegang pada prinsip yang benar, Menahan diri (disiplin, kesederhanaan, kepantasan, dan control diri atas nafsu dan emosi).
3. Fokus ke Reaksi, Bukan Pada Masalah
Bukan stress yang membunuh kita, tetapi reaksi kita terhadapnya.
(Hans Selye)
Lebih lanjut, Henry Manampiring mengatakan bahwa sebenarnya masalah yang kita sebenarnya hanya 10 persen doang, sedangkan yang 90 persennya adalah reaksi dari kitanya terhadap masalah tersebut. Jadi ketika ada masalah yang nggak perlu berpaku pada masalah tersebut, akan lebih baik fokus kepada reaksi kita terhadap masalah tersebut, kemudian mencari solusinya.
4. Berlatih Menderita
Di era digital yang serba canggih ini, semua hal menjadi mudah. Perut lapar tapi malas keluar, ya tinggal Go Food. Malas jalan kaki dari dari Kosan ke Kampus, ya tinggal pesan ojol, semuanya serba mudah. Dampaknya, karena terlalu keenakan, kita mudah bosan dan bahkan apa yang kita punya seperti Motor, Handphone, Rumah, Pekerjaan, pasangan yang cantik/tampan, itu hampa, padahal banyak di luar sana yang menginginkan.
“Luangkan beberapa hari dalam setahun di mana kamu harus memuaskan dirimu dengan makanan yang paling sederhana dan murah, mengenakan baju yang paling jelek dan kasar, kemudian berkata pada dirimu sendiri, ‘Inikah kondisi yang saya takuti?’ Justru ketika keadaan kita sedang baik, maka jiwa kita harus diperkuat untuk menghadapi kesulitan yang lebih besar. Justru ketika Dewi keberuntungan sedang ramah, maka kita harus menyiapkan diri terhadap murkanya.
Di masa perdamaian, para tantara berlatih melakukan maneuver menggali tanah padahal tidak ada musuh, dan melelahkan diri dengan kerja keras yang sebenarnya tidak perlu, agar akhirnya dia siap ketika harus berkerja keras betulan. Jika kamu ingin seseorang tidak goyah saat krisis menghantam, latihlah ia sebelum krisis datang.” Seneca.
Menurut (Irvine dalam Manampiring, 2023:191) mengatakan bahwa ada beberapa manfaat dari latihan kesusahan. Pertama, melatih diri kita menjadi lebih Tangguh agar ketika tiba-tiba ada peristiwa menyakitkan yang datang, ya kita sudah siaga. Kedua, untuk membentuk rasa percaya diri, sehingga kita bisa menanggung musibah dengan tabah dan kuat. Ketiga, sebagai adaptasi kenikmatan. Yaitu apa yang membuat kita senang seperti uang, ketenaran, seks, harta benda dan lain-lain pada akhirnya akan kehilangan kenikmatannya. Membiasakan berlatih menderita akan membuat kita ‘ngeh’ bahwa ternyata setelah makan di Warteg, sering makan di Restoran itu pencapaian yang luar biasa yah. Bahwa meskipun nggak punya motor, tapi masih beruntung bisa jalan kaki. Dan bahwa mempunyai mobil sendiri itu patut disyukuri kebanding berdesak-desakan di rel kereta. Begitulah.
5. Potensi Dikecewakan
Saat kamu mencium anakmu atau istrimu, katakana pada dirimu sendiri bahwa kamu hanya mencium manusia, sehingga kamu tidak terganggu saat salah satu dari mereka meninggal Dunia. Epictetus.
Dikecewakan itu menyakitkan. Ketika di bawah dia menjanjikan akan menegakkan hukum, mensejahterakan rakyat, membuka 19 juta lapangan pekerjaan dan lainnya, tapi setelah menang, mana janji itu? Ditelan oleh kebutuhan sendiri. Orang baik yang kita kenal, pada akhirnya akan mengecewakan, dan itu hal yang biasa dalam hidup. Makannya Pytagoras pernah berkata bahwa setiap hal itu ada sisi-sisinya. Termasuk manusia. Kalo hari ini baik banget, maka ketika nanti dia berubah jadi jahat ya jangan terkejut, itulah sisi lain yang baru kita ketahui darinya, Untuk itu, kita harus menyiapkan diri dikecewakan sebelum itu benar-benar terjadi.
6. Prinsip Seperti Batu
Ketika hidup di bawah, sebagai manusia biasa pasti kita akan mengeluh. Sebaliknya ketika tiba-tiba Dewi Fortuna datang membawa hidup kita ke atas, kita lupa diri, nggak semuanya sih begitu, tapi ada aja. Markus Aurelius mengatakan bahwa kita harus mempunyai prinsip layaknya batu, yang di mana ketika di bawah dia tetap menjadi batu, bahkan ketika berada di atas pun dia nggak berubah, tetap menjadi batu. Terlepas batu ini adalah benda mati, kita lihat dalam perspektif lain di mana mempunyai prinsip ini memang penting, untuk menjaga kewarasan kita hidup.
7. Langkah Mengendalikan Emosi Melalui Stop, Think, Asses dan Respon (S-T-A-R)
Peristiwa pahit yang kita alami seperti lahir sebagai anak miskin, dikhianati, cinta bertepuk sebelah tangan, ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya dan lain-lain, membawa kita pada satu respon, emosional. Menurut Marcus Aurelius di sinilah peran kita dapat mengendalikan emosi, cemas, khawatir dan lainnya. Upaya yang bisa dilakukan adalah mengendalikan interpretasi secara aktif. Melalui tiga tahap: Peristiwa, Interpretasi dan respon. Contohnya ada peristiwa Dosen tiba-tiba nggak bisa masuk kelas, padahal kita sudah jauh-jauh berangkat dari Rumah. Interpretasinya, alih-alih menggerutu, kita alihkan ke ya udah ini waktu luang buat belajar mandiri. Kemudian memberikan respon, bawa calm dan fokus belajar mandiri.
Selain itu, menurut Henry Manampiring sendiri dalam mengendalikan emosi negative melalui pendekatan Stop, Think, Asses dan Respon (STAR)
1. Stop (Berhenti)
Ketika kita mengalami emosi negative atas sebuah peristiwa, kita sering dinasehati untuk menarik nafas. Yeah metode klasik tapi ternyata dampaknya memang krusial. Dalam perspektif Henry Manampiring, di posisi inilah kita harus stop! Dari emosi-emosi ini, jangan biarkan pikiran kita berkeliaran sehingga membuat masalah semakin keruh.
2. Think dan Asses (Dipikirkan dan Dinilai)
Tahap selanjutnya setelah menghentikan emosi sebelumnya, kita mulai berpikir rasional atas peristiwa yang kita alami. Kemudian memberikan penilaian. Contohnya, dari pada kita sibuk ke emosi kita dengan menggerutu atas ketidakhadiran Dosen, lebih baik kita ganti dengan pertanyaan, kenapa tiba-tiba Dosen memberikan kabar tidak bisa masuk? Ada kegiatan yang lebih penting kah dari kewajiban mengajarnya? Tapi karena kita sudah kepalang tanggung berada di Kampus, ya sudah belajar mandiri saja.
3. Respon
Setelah kita memberikan penilaian terhadap peristiwa tersebut dengan rasional, tahap selanjutnya adalah memberikan respon kita terhadap hal tersebut seperti apa. Contohnya, ya sudahlah dari belajar mandiri nggak rugi-rugi banget, lagian materinya sudah diberikan sama Dosen. Dengan me-respon seperti ini, ya kelar nggak tuh masalah, ya setidaknya masalah tersebut bisa kita kendalikan.
8. Melawan Lebay
Dengan maraknya media social, jempol kita gampang banget tergiur untuk posting-posting. Ya nggak apa-apa sih, Namanya juga setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengekspresikan diri. Menurut Henry Manampiring, tanpa kita sadari sering bersikap lebay terhadap menanggapi segala sesuatu seperti ketinggalan kereta, lebay! Lama menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang, lebay! Ditolak sama orang yang disukai, lebay! Timnas senior gagal juara AFF, lebay! Kenyataan ini menciptakan standar baru bahwa hidup itu harus terlihat indah, biar Bahagia. Padahal seringkali keindahan yang ditampilkan itu palsu. Dampaknya, mengalami kenyataan pahit membuat disikapi seperti masalah besar, miris!
Dalam pemikiran filosofi teras ini, ada tiga cara untuk hidup melawan fenomena lebay. Pertama, tidak ada yang baru di Dunia ini, semuanya terjadi secara berulang. Kedua, melihat perspektif dari atas, yaitu ketika kita mengalami hidup kita berat coba tengok kehidupan orang lain yang secara ekonomi terbatas bahkan banyak mengalami keterabatasan tapi hatinya tetap teguh menjalani hidup, dengan melakukan cara ini kita akan memandang masalah kita nggak ada apa-apanya dibanding yang lain. Ketiga, semua akan terlupakan.
Pada saatnya kamu akan melupakan segalanya. Dan akan ada saatnya semua orang akan melupakanmu. Selalu renungkan bahwa akhirnya kamu tidak akan menjadi siapa-siapa dan lenyap dari Bumi.
(Marcus Aurelius)
9. Menjadi Fleksibel Saat di Keramaian atau Sendirian
Saat kamu sendirian, sebutlah itu sebagai ‘ketenangan’ dan ‘kemerdekaan’. Saat kamu di tengah banyak orang, janganlah katakana ini sebagai kerumunan berisik, atau masalah, atau ketidaknyamanan. Namun, anggaplah kamu sedang dalam berada di pesta yang meriah, ditemani banyak orang, dan terimalah dengan puas. Epictetus
Akhir kata, inti dari buku ini adalah mengulas bagaimana kita harus mempunyai prinsip dalam menjalani hidup. Salah satunnya dengan menyadari apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak bisa kendalikan. Pemikiran Stoa meskipun klasik, ternyata masih relevan sampai sekarang, apalagi dengan beredarnya penggunaan media social, membuat kita sebagai manusia sejati harus memperkukuh prinsip diri agar terhindar dari konten-konten yang tidak berfaedah dan tergiring dari informasi yang tidak valid.
0 Komentar