Foto kelompok Sinara
“Makan, Pak.” Kata gue basa-basi melihat kepada Bapak-bapak pedagang keliling, turun dari motornya.“Iya, silahkan.” Jawabnya, sambil berjalan ke arah keropak Masjid.
Dengan santainya Ia memasukkan sebagian uang hasil jualannya ke keropak tersebut, tanpa merasa terbebani. Bahkan setelah selesai, Ia pergi dengan senyum tulus layaknya orang merdeka, seakan-akan telah menepati amanah dari perintah tuannya.
Jujur, gue tersentuh, makanan pun kadar nikmatnya berkurang. Mungkin inilah tujuan Tuhan menyuruh gue menepi sebentar di sini, untuk menyaksikan hamba-Nya yang banyak kebutuhan, tapi tetap menyisihkan sedikit uangnya. Pakainya memang compang-camping, tapi hatinya bening. Tak bersorban, tapi diam-diam berkontribusi dalam meneguhkan nilai-nilai agama, tanpa menjual ayat-ayatnya.
Hari ini gue ke kampus sekitar siang, nggak ada mata kuliah sebenarnya, cuman kerja kelompok. Gue nekad berangkat ke kampus menghiraukan air hujan yang menggoda untuk tidur atau belajar mandiri di Rumah sambil menikmati secangkir kopi pahit. Karena memang gue harus ikut andil dalam pengerjaan tugas tersebut, untuk persiapan pas di acara besarnya nanti.
Setelah selesai mengerjakan tugas kelompok, gue teringat janji untuk ke kosan teman gue, mengambil Jas untuk acara peaching besok. Mulailah gue jalan kaki, tiba-tiba gue terdorong untuk menepi dulu di salah satu Masjid, sambil menunaikan Shalat Isya. Perut gue mulai keroncongan, meminta untuk makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke kosan. Ya udah, tanpa berpikir Panjang gue mulai membuka kotak bekal, meskipun ada sedikit kebingungan dari gue, kenapa bisa tiba-tiba mau di sini dulu ya? Entahlah.
Versi AI bersama Sri Devi, Kheyza, Eva dan Atiyah
Kebingungan itu terjawab setelah ada Pedagang Keliling memberhentikan motornya, lalu berjalan menuju keropak yang bertulisan “Untuk Anak Yatim” tangannya merogoh uang yang sebelumnya sudah disisihkan dan memasukkannya. Entah berapa jumlahnya, yang jelas si Bapak cukup lama berdiri, sambil memasukkan uangnya. Di sinilah gue mulai mengerti, oh plot wist-nya ternyata ini, kenapa gue tiba-tiba mau menepi sebentar, padahal sebelumnya kalau lewat ya lewat aja?
Gue bukan hanya tersentuh, tapi ada ada rasa sedikit malu kepada Tuhan, sudah beberapa hari ini tak menyisihkan uang untuk orang-orang yang lebih membutuhkan, karena alasan takut kekurangan, takut mengalami kesulitan dan takut segala-gala. Padahal menyisihkan dua ribu atau seribu, itu sudah lebih dari cukup, dari pada enggak sama sekali. Tapi begitulah, gue terlalu ikut campur mengurus diri yang di mana itu kapasitas Tuhan, bukan kita sebagai manusia.
Dari peristiwa ini gue melihatnya dari berbagi perspektif. Pertama, kadang kita masih cenderung menganggap remeh orang-orang yang compang-camping, nyelenehlah. Tetapi berbanding balik dengan yang memakai simbol-simbol agama, padahal kita harus bersikap baik kepada setiap orang tanpa menjugde-nya. Kecuali dia menyusahkan rakyat dengan membuat proyek kapal cepat misalnya hehe.
Kedua, Gus Baha pernah berkata rajin-rajinlah sedekah, untuk menguji diri bahwa apa yang kita miliki itu hanya sementara. Jangan menunggu untuk kaya dulu, justru pas di posisi nggak kaya-kaya amatlah (uang pas-pasan) waktu yang tepat, karena masuk nominasi dermawan. Contohnya saat ada uang pas-pasan sepuluh ribu, itu kan kecil. Lalu kita sedekahkan dua ribu, berarti masih ada sisa delapan ribu, yah masih besar. Bahkan ketika kita sedekahkan lima ribu misalnya, kita ikhlas bagi dua karena nominalnya seimbang.
Hal ini berbeda ketika kita misalnya kaya, punya uang seratus juta. Lalu kita sedekahkan dua ratus juta, pasti mikir-mikir dulu, padahal kita masih ada sisa delapan puluh juta. Bayangkan kalau dibagi dua, sedekah lima puluh juta, wah itu pasti makin mikir sayang banget. Dari pada buat sedekah, lebih baik uangnya disimpan buat pemilu atau sebagian digunakan untuk menyumpal mulut orang yang suka demo mengatasnamakan kepentingan rakyat rabit invasion.
Ketiga, biasakan menyumbangkan kontribusi, tak perlu besar, kecil saja tapi konsisten dilakukan, bukan besar sayangnya hanya satu gebrakan doang, atau formalitas. Kita harus belajar dari si Bapak, kontribusinya kecil, tanpa tepukan tangan, tanpa sibuk bercipau menyuruh orang-orang untuk bersedekah, tapi Ia melakukannya diam-diam, seolah-seolah cukup Tuhan saja yang mengetahuinya.
0 Komentar