Foto teman-teman kelas B
“Ini Tugas kenapa semakin hari, semakin numpuk aja sih. Pusing tahu dikejar waktu, mana harus nunggu acc pihak sana dulu.” Keluh teman-teman.
“Ini Dosen niat ngajar nggak sih, tiba-tiba datang, tiba-tiba menghilang, tiba-tiba ngasih tugas. Kan kocak, mau ngajak belajar atau main petak umpet. Main ludo king aja sekalian.” Keluh teman-teman yang dighosting oleh kabar kehadiran Dosen.
“Ini kenapa tiba-tiba ada tugas terbitin jurnal, dan nama yang bersangkutan mau jadi penulis pertama? Kita yang mikir, kita yang bayar, relevansinya apa terbitin jurnal untuk mata kuliah?”
Keluhan-keluhan bersileweran, akibat tensi perkulihan cukup tinggi membuat tekanan emosi juga ikutan naik. Dalam situasi ini, gue berpikir inilah waktu yang tepat untuk merenungi, apa sebenarnya tujuan kita ngampus? Kenapa kita harus bertahan dengan situasi ini? Bagaimana dampaknya bila kita tetap tenang bertahan dalam tekanan, dibanding dengan merutuki keadaan?
Untuk manjawabnya gue teringat table target konyol waktu SMA, semua ini adalah hasil dari mimpi, doa dan usaha di table itu. Sungguh rugi, bila tak mensyukurinya.
Sejak semester empat, gue sudah menyiapkan diri agar tetap tenang bila menginjakkan kaki di Semester lima, karena inilah kunci di semester selanjutnya. Ternyata, nggak sia-sia juga, meskipun ada beberapa yang bocor, tapi itu hanya masalah kecil, satu goyangan langsung beres. Tensinya memang cukup tinggi sih, berbeda dari sebelumnya. Tapi elo tahu nggak sih, kalo pas dijalani padahal biasa aja tahu-tahu kelar aja tuh tugas.
Gue juga manusia biasa, menghadapi ini kadang suka ngeluh sih. Seperti misalnya tugas membuat makalah atau tugas-tugas lainnya, kadang kita ngeluh, kok susah banget sih mana harus ada referensi jurnal dan buku yang mendukung lagi. Pada bagian ini gue berpikir, kalo kita sekarang merasa bahwa tugas-tugas sulit meskipun sudah ada alat bantu AI, bagaimana kondisi mahasiswa sebelum-sebelumnya tahun 200-an ketika ada tugas membuat makalah dan harus ada referensi yang mendukung? Di sinilah letak perbedaan yang harus dijadikan motivasi untuk bersyukur, bukan malah insecure.
Dalam pengerjaan tugas, kadang gue banyak diteror oleh Penanggung Jawab mata kuliah, elo tahu kenapa? Karena gue orang terakhir yang belum mengumpulkan tugas hehe. Gue sengaja melakukan ini, karena percuma kita mengerjakan tugas tapi nggak tahu esensi yang kita kerjakan apa? Relevensninya apa? Dampaknya apa? Dan bila kita kaitkan tugas ini ke mata kuliah yang lain bagaimana penjelasannya? Ini bukan hanya melatih berpikir kritis, tetapi melatih bernalar, sehingga kita bisa mengukur diri seberapa paham sih kita terhadap materi tersebut.
Gue salut sama teman-teman yang cepat banget mengerjakan tugas, kayak sat-set gitu, pintar-pintar banget. Sedangkan gue? Ruwet anjay, pokoknya gue harus pahami dulu secara mendalam sebelum mengerjakan. Yeah meskipun gue nggak munafik kadang pakai opsi terakhir, copypaste di internet wkwk, gue nggak sesuci itu kok. Tapi gue ironis aja, kita diperkosa oleh sistem untuk memahami lintas materi tanpa ada jeda waktu yang cukup.
Mungkin ada yang menyanggah, sistem sudah memberikan jeda waktu kok untuk mahasiswa merenungi materi itu? Oh iyah, tapi terbatas dan memang itu kembali kepada orangnya lagi. Gue teringat dengan apa yang disampaikan Dosen gue ketika menyampaikan materi pernah berkata bahwa, kurikulum di jurusan kita sekarang terlalu menambahkan mata kuliah yang baru, biar keren Namanya. Padahal mata kuliah itu hakikatnya bisa disatukan dengan mata kuliah yang lain, karena sama-sama sejenis, tinggal kaitkan aja.
Gue setuju pendapat ini, karena ya buat apa kalau pada akhirnya capaian kelulusan mata kuliah itu sama dengan mata kuliah yang lain.
Lebih lanjut, Dosen gue mengatakan kenapa sekarang ada mata kuliah Pendidikan Informal, bukankah itu bisa dikaitkan dengan mata kuliah landasan Pendidikan atau mata kuliah yang lain? Nah, awalnya gue nggak setuju terhadap pendapat ini, tapi setelah gue riset dan mengikuti perkuliahan, hipotesisi gue ternyata isinya sama aja, bahkan proses evaluasinya nanti nggak ada perbedaan dari mata kuliah sebelumnya. Ini tragis, yang akhirnya membuat Mahasiswa dan Dosen itu sendiri terbebani. Ibaratnya kita ekpetasinya diajak untuk berenang di lautan, tapi dipertengahan jalan disuruh berenang lagi di kolam renang terdekat.
Kalo ada yang bertanya ke gue, bagaimana pendangan gue terhadap kondisi dan relevansi kampus sekarang? Jawaban gue, bingung. Pertama, gue belum selesai mengkaji alasan dibalik sistem itu, dan yang kedua belum selesai mengkaji apa alasan gue berpikir seperti ini, apakah hanya apa yang gue rasakan, atau memang benar fakta social. Karena kita harus objektif memandang sesuatu, terkhusus hal ini. Kalo berdasarkan subjektif mah, sudah diwakili sama Guru Gembul wkwk.
Terkait table target konyol, yeah gue masih ingat itu. Jadi gue iseng-iseng membuat beberapa target satu tahun ke depan setelah lulus Sekolah mau ngapain, dan elo tahu salah satu targetnya adalah bisa kuliah di Kampus sekarang. Gue masih ingat, pas menuliskan target kuliah ini antara yakin dan nggak, malahan menganggap ini ide konyol yang mungkin tanpa bantuan Tuhan nggak bakal tercapai, eh ternyata tercapai.
Gue memang insecure melihat praktik-praktik tidak senonoh yang terjadi di Kampus, itu sangat mencederai dunia Pendidikan. Tapi gue tutupi dengan terus belajar agar melihatnya dengan objektif, karena bisa jadi ini akibat dari pengetahuan gue yang masih dangkal. Jadi lebih baik gue juga belajar bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk belajar di kampus modelan bisnis ini.
0 Komentar