Kalang Kabut di Persiapan Lomba Policy Brief

Foto Najwa dan Anah hasil rekomendasi Chatgpt
“Apakah selama tiga hari ini tidur elo nyenyak atau kepikiran soal ini, Na?” Tanya gue kepada Anah, disela-sela diskusi penyusunan.

“Nggak tenang banget, gue kepikiran terus soal policy brief ini.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Masalah apa yang mau kita angkat, apakah homeschooling atau Pendidikan tanpa batas?” Tanya Nawa

Setelah melalui diskusi yang Panjang, kami sepakat mengambil tema Pendidikan tanpa batas atas dasar masih minimnya Pendidikan Nonformal dan Informal diterima oleh Masyarakat, berdasarkan data yang didapat hal ini terjadi karena Pendidikan Formal lebih menjadi prioritas, sehingga dampaknya ada kesenjangan kesetaraan terhadap tiga jalur Pendidikan.

Policy brief menurut pemahaman gue adalah naskah ringkas yang singkat namun berbobot untuk dijadikan bahan pertimbangan oleh Pemangku kebijakan, dalam hal ini Pemerintah. Sebenarnya sama sih kayak tuntutan atau guguatan gitu, tapi bedanya ini ada pemaparannya yang ringkas, isinya cukup tajam, sehingga harus segera di selesaikan oleh Pemerintah. Contohnya dampak Menteri menganggap guru sebagai beban negara terhadap motivasi mengajar di kelas, nah kita analisis fakta di lapangan seperti apa, lalu dicantumkan solusi untuk diselesaikan oleh pemerintah bagian Pendidikan.
Policy brief kami
Sekitar tiga Minggu lalu, ketua umum himpunan jurusan meminta kesediaan gue untuk menjadi delegasi dari jurusan mengikuti kegiatan yang akan diselenggarakan oleh Bem Penmas UPI. Gue nggak langsung meng-iyakan, harus tahu dulu bentuk kegiatannya seperti apa. Dan yang membuat gue penasaran adalah, kenapa harus gue? Menurutnya, anggota himpunan lagi fokus ke program kerja yang akan berlangsung, jadi mentok cari siapa lagi. Berasa jadi second choice gue cuy hehe.

Dua hari kemudian gue menghubungi Najwa yang direkomendasikan oleh ketua umum tersebut, apakah dia bersedia? Tidak, dia terkejut karena bukan bagian himpunan, lantas ngapain ikut terlibat.
Gue menjelaskan to the point, dapat arahan dari Ketum, syukurnya dia mengerti dan mau ikut terlibat. Mulailah gue mendalami booklet yang diberikan oleh panitia, ternyata kegiatannya ada dua, pertama talkshow dan workshop. Kedua, lomba membuat policy brief. Salah satu syaratnya harus punya tim yang terdiri dari tiga orang.
Komitmen. Inilah langkah pertama yang gue ambil untuk membentuk tim.

Gue langsung garcep meminta Najwa untuk bertemu membahas perihal ini. Terutama tentang komitmennya dalam lomba nanti. Setelah selesai, kami mulai mencari siapa satu orang lagi yang sekiranya tepat untuk masuk tim, dari beberapa nama kita eliminasi sampai tersisa satu, namanya Anah. Yeah, gue kurang begitu dekat, tapi soal diskusi gue meng-iyakan, karena dulu pernah sekali membahas kurikulum Pendidikan. Najwa langsung garcep menghubunginya, dan elo tahu apa yang terjadi? Dia beneran datang cuy.

“Kenapa kalian pilih gue untuk ikut masuk tim?” Tanya Anah yang tidak percaya.

“Karena elo cocok.” Kata gue dan Najwa bergantian.

“Oh yah, gue cocok. Maksudnya cocok gimana dan kenapa?” Tanyanya lagi kritis.

Kami pun menjelaskan secara perlahan alasannya apa, dan bagaimana prosedurnya nanti. Apakah dia bersedia? Tidak, masih belum memutuskan.

Besoknya, gue cukup kelimpungan mencari calon anggota tim kedua yang terdiri dari tiga orang. Gue mulai menghubungi orang-orang yang sekiranya punya konsentrasi di bidang ini, hasilnya mereka pada nolak hanya dua orang yang menerima. Gue cari satu orang lagi, sampai benar-benar mentok, yang akhirnya berdasarkan pertimbangan dari Najwa kami memutuskan bentuk satu tim. Menghadapi bebagai penolakan gue sempat bertanya kepada diri sendiri, untuk apa semua ini? Gue begitu semangat membentuk tim? Hanya satu jawaban, pegangan eliminasi ke depan.

Rangkaian kegiatan Talks Show dan Workshop dimulai pada hari Rabu Pagi. Sesi pertama Talkshow membahas Pendidikan tanpa batas dan Homeschooling. Tadinya gue nggak kepikiran buat bertanya, tetapi topik Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) menarik perhatian, masih ngawang aja dipikiran gue. Terus soal optimalisasi regulasi Pendidikan nonformal dan informal juga kembali gue tanya. Dan yang kocak adalah pas bagian sesi akhir workshop policy brief, pemateri bertanya apakah ada yang sudah dapat isu yang mau dibahas? Semua peserta diam, termasuk gue karena memang kami belum ada obrolan ini, Lama tak ada yang bereaksi, gue memutar otak mencari fokus konsentrasi policy brief kami apa, tanpa berpikir Panjang pemateri pun memberikan arahan.

Pertemuan 1 dan 2 telah kami lakukan, tetapi kami masih mentok menyampaikan ide yang dipikirkan. Untuk judul kami sepakat “Pendidikan Tanpa Batas: Menghapus Kesenjangan, Membangun Integrasi” Gue fokus mencari data berdasarkan Undang-undang, sedangkan Najwa dan Anah mencari data dari berbagai sumber terpercaya, termasuk BPS. Dari proses mengikuti lomba membuat policy brief ini gue mendapat banyak pembelajaran, diantaranya:

1. Bidik isu yang strategis tak cukup, bila pemaparannya nggak kongkrit. Gue barusan melihat hasil peserta yang lain, pemaparannya sangat kongkrit termasuk di bagian rekomendasi. Iseng-iseng gue becanda, ini mereka nggak copypaste di Chatgpt-kan? Soalnya pandangannya terhadap isu yang dibahas matang banget, sedangkan kami di bagian solusi banyak yang bersinggungan dengan sosialisasi.

2. Pemula wajar tak sempurna. Kami adalah pemula dalam mengikuti lomba ini, pun di lomba yang lainnya, kecuali yang individu. Makannya dari awal kami sering mewanti-wanti untuk tidak berekspetasi tinggi, yang penting ikut pertisipasi lumayan aja dapat pengalaman. Karena yang terpenting adalah kerja sama tim.

3. Kami memang kalah, tapi jujur gue bangga dan menerima fakta ini. Kenapa? Karena kami bisa bersaing dengan Kampus yang lain. Dari 14 peserta yang daftar, kami dapat posisi ke 7 dengan total nilai 78, lumayanlah nggak malu-maluin berada di posisi bawah. Gue berani bertaruh, kalo terus konsisten pasti analisis kami akan lebih tajam.

4. Data itu bukan pelengkap, tapi dasar dari alasan mengapa kita menulis policy brief itu. Kami cukup kelimpungan mencari data karena memang pembacaannya nggak taktis, mana yang seharusnya diambil dan mana yang seharusnya tidak.

5. Jangan puas belajar. Gue ngeras tolol saat tiga hari menuju pengumpulan Policy Brief, jadi ceritanya kami mentok soal penyusunan ini arahnya mau ke mana, pamaparannya gimana? Mulailah gue mencari tutorial di Youtube bagaimana cara membuat Policy Brief yang tepat, eh alhamdulillahnya gue dapat vidionya, ternyata ada strateginya kita harus cari tahu dulu akar masalahnya apa, dampaknya apa dan sebabnya apa. Setelah kami coba, Splash! Mulailah pikiran kami terbuka ke mana arah pembahasan kami. Yeah gue ngerasa tololnya karena telah ikut workshop belum tentu gue paham seratus persen materi policy brief itu, ternyata benar gue hanya sedikit pahamnya, untuk itulah sangat penting sekali kita memepelajari ulang sesuatu.

6. Rajin menulis esay itu sangat penting, karena ini adalah pondasi menulis dari berbagai macam tulisan. Baik artikel ilmiah, Policy Brief, Makalah, Skrispsi dan lain sebagainya. Karena kalo kita sudah terbiasa menulis esai, ya gampang aja ke depannya.

Itulah beberapa poin yang gue dapatkan setelah mengikuti lomba policy brief. Gue nggak bisa mengekspresikannya lebih jauh, karena itu cukup dirasakan aja sebagai cambuk perbaikan diri. Pada akhirnya tiada kesempurnaan tanpa proses perjuangan yang Panjang sebelumnya. Buah-buahan yang memenuhi pohon tidak muncul dengan sendirinya, ia muncul dari proses yang Panjang, perlahan tapi pasti, lalu hadir membawa warna kehidupan bagi lingkungan sekitarnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement