Memaknai Bermain Game Football

Sumber foto dri uman
“Kamu! Main game terus, kayak kurang kerjaan aja.”

“Untuk apa di Sekolahkan tinggi-tinggi, kalau pola perilakunya seperti ini, buang-buang waktu.”

“Waktu libur itu sebaiknya di manfaatkan dengan baik, bukan sibuk main game.”

Gue hanya membalas senyum,mendengar nasihat-nasihat yang sekilas menyayat hati. Bukan berarti nggak bisa melawan atau kalah argument, tapi gue mendapatkan pelajaran yang berharga. Bahwa kadang kita terlalu sibuk melarang seseorang untuk melakukan sesuatu dengan alasan peduli, tenpa bertanya kenapa kamu melakukannya? Apa alasan logis kamu melakukannya? Sederhana namun mendewasakan.

Selama libur, gue mengalami kebosanan dalam belajar mandiri. Gue menganalisis situasi, apakah perlu suntikan motivasi ekstrinsik untuk kembali pulih atau perlu suntikan intrinsic? Sejauh ini, gue sudah menyeimbangkan keduanya, malahan yang ekstrinsik lebih dominan. Iseng-iseng, gue download game cacing, ya biasa langsung main. Tiga hari sibuk bermain, gue kembali bosan karena nggak ada tantangannya.

Gue teringat, dulu waktu masa SMP pernah kecanduan main game football di HP Jadul Nokia, biasa-biasa aja gitu waktunya masih teratur. Antara Sekolah, belajar mandiri dan tualang Bersama teman-teman di Kampung. Gue hapus game Cacing, dan gantinya download game football league 2025. Tampilannya cukup menarik, bahkan mudah digunakan. Nggak menantang banget dah, kata gue dalam hati. Seketika gue dapat ilham, ya iyalah mudah kan tingkat kesulitannya level 1, bukan yang paling sulit. Mulailah gue mengubah tingkat kesulitannya, nggak tanggung-tanggung gue piih level 5, paling sulit banget.

Setiap turnamen sudah gue dapatkan, nggak ada lagi yang membuat gue tertantang. Tapi ada satu bagian dalam game football itu yang menarik perhatian gue “Mode Karir” Apa maksudnya ini Co? Tanya gue pada diri sendiri. Gue mulai ‘Klik’ dan di detik selanjutnya gue mulai jatuh cinta dengan tantangannya bahkan gue mulai menemukan alasan filosofis mengapa harus bermain game tersebut. Bukan lagi untuk menghilangkan kebosanan, tapi benar-benar untuk belajar banyak hal. Berikut gue paparkan:

1. Mengelola Klub. Dalam game tersebut, kita diberikan kebebasan untuk memilih klub, lalu mengelolanya sesuai kemampuan kita. Divisi 3 itu paling rendah, divisi 2 itu tengah-tengah, sedangkan divisi 1 itu paling tinggi. Kalau pengelolaannya baik, maka klub kita akan mudah promosi, sedangkan kalau pengelolaannya biasa saja, pasti! Degradasi. Gue membayangkan mengelola klub Muncester City (Liga Inggris) Atletico Madrid (Liga Spanyol) itu pembelajaran yang luar biasa, kayak bangga aja gitu, terus memutar otak untuk mengelolanya dengan baik. Di bagian ini juga gue belajar bagaimana klub-klub besar bekerja untuk tetap eksis bersaing dengan klub yang lain.

2. Manajemen Keuangan. Klub besar maupun kecil tanpa manajemen keuangannya yang baik, maka akan bangkrut. Kayak bisnis aja gitu. Seperti misalnya klub Singapura Home United, pernah mengalami krisis keuangan, dalam ambang itu klubnya dibeli oleh pengusaha yang berujung berganti nama. Bahkan sekelas Barcelona sering mengalami krisis keuangan. Ini yang menantang gue untuk belajar manajemen keuangan klub.
Saat klub yang gue pegang promosi ke divisi 1, manajemen keuangan klub nggak stabil, bahkan krisis banget. Gue putar otak di sini mencari solusi yang tepat. Dan elo tahu, stabilnya itu setelah melewati tiga musim, itu artinya tiga tahun bro. Setelah stabil, gue mulai evaluasi besar-besar kenapa tiga tahun sebelumnya mengalami krisis, dan bagaimana caranya klub ini tidak mengalami hal sama di musim berikutnya? Masalah utamanya ternyata, harga pemain pada naik, sedangkan pemasukkannya nggak seberapa, jadi percuma gue dapat uang, kalo nanti habis untuk membayar para pemain. Pokoknya harus gue akalin ini, ucap gue pada waktu itu.

Di bagian ini, gue maknai bagaimana kita harus bijak dalam memperioritaskan antara kebutuhan dan keinginan. Misal, membayar gajih para pemain itu adalah kebutuhan yang harus gue utamakan, dibanding dengan membeli pemain baru. Ketika memutuskan untuk mengeluarkan uang, kita harus sadar dulu apakah ini benar karena kebutuhan? Bagaimana dampaknya bila kita membelinya? Inilah yang sering gue pikir matang-matang, sebelum mengambil keputusan.

3. Membentuk tim yang satu misi. Teman gue yang dari Jurusan Manajemen pernah bilang, bahwa kesuksesan Perusahaan ditandai dengan manajemen yang baik, salah satunya pada proses me-rekrut karyawan, harus memiliki kompetensi yang tepat sesuai kualifikasi dari Perusahaan itu. Kalo di salah satu anggota timada yang tidak kompeten, maka tinggal menunggu hitungan hari perusahaan mengalami masalah besar.

Ilmu itulah yang gue terapkan dalam game football league 2025 ini. Pada proses rekrut pemain nggak asal, benar-benar berkualitas. Kalo misalnya sudah membeli, tetapi cara bermainnya tidak sesuai dengan misi tim, ya udah gue kick atau jadi penghangat bangku cadangan sampai menemukan klub yang tepat membelinya, biar gue kembali modal. Di sinilah gue belajar ketegasan, mempertahankan satu orang yang merugikan tim atau mengeluarkannya untuk menyelamatkan tim? Ya tentu, gue memilih mengeluarkannya, meskipun harus mengalami kerugian karena tidak kembali modal.

Dalam hidup pun begitu, kita harus berani dan tegas menghindari atau bahkan meng-kick orang-orang yang tidak sejalan dengan kita. Awalnya pasti merasa kasihan dan takut tidak mendapatkan pengganti yang tepat, tapi seiring berjalannya waktu tanpa disangka-sangka setelah melalui pencarian kita mendapatkannya lebih dari yang sebelumnya.
4. Investasi. Gue pernah membaca quotes di Quora bunyinya begini “Orang kaya mencari uang bukan dengan bekerja, melainkan dengan mengeluarkan uang” Setelah mengalami keuangan klub tidak stabil, gue menemukan solusi. Pertama menjual pemain dan kedua membeli pemain yang usianya masih muda sekitar 18 tahun sampai 23 tahun. Elo tahu alasannya apa? Ketika di usia itu harga pemain masih murah, jadi tidak terlalu mengocek modal. Dan lima tahun ke depan, harganya meningkat, ya udah gue jual.

Contohnya, gue membeli 4 Pemain usianya 20 Tahun dengan total harga misalnya 20 Juta, jadi per-pemain 5 Juta. Setelah lima musim gue jual per-pemain 20 juta, dikali 4 totalnya 60 juta, lumayan gue mendapat keuntungan 40 juta. Begitulah cara kerjanya. Yeah tentu dalam bisnis pasti sering mengalami rugi, bahkan sering terjadi di luar prediksi. Gue pernah mengalami situasi ini yang seharusnya harga pemain melonjak, tiba-tiba menurun. Boro-boro untung, palingan hanya kembali modal setengahnya. Tapi itulah bisnis, yang memaksa kita terus berpikir, bertindak dan belajar dari kesalahan. Makannya gue anti rekrut pemain yang usianya di atas 30 tahun, bukan nggak berkulitas, tapi harga pasarnya semakin tua semakin menurun.

5. Visioner. Gue pernah membaca buku tentang kepemimpinan, dan sialnya gue lupa judulnya apa. Yang jelas isinya begini, ada seorang pengusaha yang usahanya sedang stabil bahkan semakin ramai saja. Tapi dia gundah melihat kenyataan itu, padahal harusnya kan menikmati. Ketika dia ditanya oleh motivator ia menjawab, bahwa saya sedang memikirkan 20 atau 30 tahun ke depan bagaimana caranya agar perusahaan saya tetap stabil seperti sekarang. Sama halnya dengan di Game Football ini, meskipun manajemen keuangan stabil bahkan mendapat keuntungan yang berlipat-lipat gue tetap tidak lengah, terus memutar uang agar tetap stabil. Alhamdulillah selama 20 Musim berjalan keuangan klub terus meningkat, makannya di situ gue mikir tantangan di mode karir udah selesai karena karir gue udah sukses hehe. Ya udah, akhirnya gue biarkan dan mencari klub baru lagi mulai dari modal 5 juta sampai tembus 6 kali lipat.

6. Upgrade Diri. Di lingkungan yang tepat, kita akan mendapatkan kesempatan yang banyak untuk meningkatkan kualitas diri. Gue membeli pemain dengan kualitas 78 dan menjual pemain gue yang kualitasnya 80 persen. Pemain gue ini sering gue mainkan, dilatih dan gajihnya tidak pernah nunggak. Dua tahun kemudian gue melihat perbedaan yang pesat, di mana pemain gue ratingnya menjadi 85 sedangkan pemain yang gue jual ke klub lain hanya naik 2 persen menjadi 82. Di sini gue menyimpulkan bahwa lingkungan itu memang sepenting itu, meskipun kita tidak jadi pemain utama misalnya di lingkungan itu, kita akan dikenal memiliki kualitas yang setara. Tinggal bagaimana kita membuktikannya.

Terlepas dari lingkungan, kita hanya perlu konsisten upgrade diri. Karena begini, gue sering membeli pemain di klub rendahan yang di mana kalau kita simpulkan lingkungannya berbanding jauh dengan klub besar. Tapi apa yang terjadi? Pemain yang gue beli dari klub rendahan sering lebih berkualitas dibanding dari klub-klub besar, karena apa? Mereka konsisten ugrade diri, siap bersaing dengan pemain-pemain klub besar, hasilnya cukup memuaskan.

7. Strategi dan Formasi. Tanpa strategi dan formasi yang tepat, klub kita tidak akan ada peningkatan. Gue sering memutar otak dalam menentukan ini, misalnya ketika melawan tim yang peringkatnya di atas klub gue, ya harus punya strateginya, formasinya juga harus dipikirkan apakah tepat menggunakan parkir bus, bertahan atau bahkan menyerang sekalian? Hal ini yang gue terapkan dalam hidup, seperti naik angkutan umum, tanpa tahu srategi dan formasi elo bakalan dikadalin oleh Supir atau kenex waktu bayar ongkos. Yang seharusnya bayar 5 ribu, ini meminta 10 ribu. Ya, begitulah.

Itulah beberapa hal yang gue pelajari dari kecanduan main game, sebenarnya masih ada beberapa cuman gue rasa itu cukup. Yang terpenting gue sudah mempunyai alasan logis kenapa bermain game dan apa maksud dari belajar sambil bermain game? Teman gue di kampus pernah bertanya, apakah selama bermain game football gue merasa ada penurunan kognitif? Gue mikir sejenak, lalu menjawab nggak ada, malahan gue senang bisa belajar banyak hal.

Akhir kata, setelah gue pertimbangkan akhirnya memutuskan untuk menghapus game football league 2025 ini. Bukan bosan atau tak menantang lagi, cuman gue berpikir apa yang telah gue lakukan ini terlalu jauh dan bahkan sudah hampir melewati batas. Jadi sebelum gue tergilas lalu ketergantungan, gue gilas duluan aja hehe.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement